Bahoewa dahoeloe kalanja Kongtja Banjoewangi itoe, atsalnja manoesja djoega, bersaudara 3 orang. Maka Kongtja jang paling toewa sendiri, bernama Tan Tjin-djin, mendjadi djoeragan dari praoe sloep bersama2 katiga saudaranja blajar dari Batawi ka Bali. Satlah praoenja sampei di straat Bali, di laoet antara Blambangan dan Bali, praoenja tenggelam. Kongtja terdampar di pantei Blangbangan, saudaranja jang ka doewa ilang di tengah laoet, laloe djadi dewa doedoek di pantai Batoedodol, tanah Banjoewangi di seboet Dji-kongtja, datuq jang kadoewa. Adapoen saudaranja jang katiga, terdampar di panteinja tanah Bali di sitoe laloe djadi harimau, setab demikijan makanja matjan itoe oleh orang Tjina disini, di seboet Sa-kongtja, artinja datuq jang katiga.

 

Adapoen Kongtja Tan Tjin-djin itoe, laloe masoek ka negri Blangbangan. Koetika itoelah moelai baharoe ada orang Tjina di negri Blangbangan, serta di poengoetnja sama Radja di sitoe, di soeroenja mendjadi toekang memboewat astana di Matjanpoetih. Satlah habis pekerdjaannja di Matjanpoetih itoe dengan sampoerna, laloe terdengar oleh Radja di Mengwi, bahoewa Radja di Blangbangan ada mempoenjai saorang toekang jang pintar sekali. Laloe di printahnja, akan di soeroeh memboewatkan astana, sebab Radja berhadjat hendak membangoenkan astana baharoe di Mengwi. Serta pada waktoe itoe negri Blangbangan, ada di bawah prentahnja Radja Mengwi, mendjadi oleh Radja Blangbangan, Kongtja itoe di soeroehnja pergi ke Mengwi. Tetapi ija tijada maoe pergi, sebab tlah di katahoewinja, jang ija akan kena pitenah di sitoe, tetapi senantijasa di boedjoknja djoega oleh Radja Blangbangan, serta dija berdjandji dengan soempah, djikalau ija kena pitenah atawa dapat tjilaka di sitoe, bijar kradjaaanja di Blangbangan sampei toeroen temoeroen kapada anak tjoetjoeknja djangan mendapat slamat. Setlah demikijan perdjandjiannja Radja Blangbangan itoe, baharoelah Kongtja maoe pergi ke Mengwi.

Setlah sampei di Mengwi, laloe ija memoelai memboewat astana baharoe di sitoe. Maka baharoe boleh separo pekerdjaanja, maka bermoefakatlah sekalijan Poenggawa di sitoe, menghadap kapada Radjanja sombahnja: “Ja toewankoe! Apalah goenanja toekang Tjina ini, maha pekerdjaannja moedah sahadja, serta oepahnja banjak, hamba toewankoe orang bali sahaja bisalah mengerdjakan jang demikian itoe. Tasoesah2 toewankoe mengaloewarkeun oewang ssbanjak2nja.” Maka Radja bersabda, oedjamja: “Pada sekarang ini apalah dajakoe, kema akoe tlah berdjandji membri oepah kapadanja, lagi poen djaoeh2 kita panggil datang kemari.” Maka sombahnja sekalian Poenggawa itoe: “Ja toewankoe! Apalah jang toewankoe soesahken, kerna ija saorang2 diri djoewa moedah djoegalah toewankoe akan memboenoeh kapadanja. Maka di sahoetinja oleh Radja oedjarnja: “Baiklah kalaoe demikijan kehendakmoe sekalija, baik kami soeroeh boenoeh sadja dijanja, djiangan kami soesah2 mengeloerwarken oewang banjak.”

Satlah bermoepakat kahendaknja Radja kapada sekalijan Poenggawanja, laloe Radja bersoeroehan kapada doewa orang brahmana, akan disoeroehnja memboenoeh kapada Kongtja. Bahoewa oleh kadoewa brahmana itoe Kongtja di boedjoeknja, di adjaknja pergi bermain2 kapinggir pantei, serta tijada sekali2 di jakinken kahendaknja itoe. Maka oleh Kongtja di ikoetnja kadoewa brahmana itoe pergi kepantei, serta tlah di katahoewinja ap maksoednja, sebab ija tijada brasa berdosa. Maka tijada sekali2 takoet atawa chawatir. Setlah sampei kapinggir pantei, maka kadoewa brahmana itoe, berpikir tijada bolehlah rasanja aken memboenoeh kapada Kongtja itoe, mendjadi kadoewanja berdiri serta tertjengang2 sahadja. Setlah terlihat oleh Kongtja, bahoewa kadoewa orang itoe bersoesah2 hati roepanja, maka di katahoewilah kahendaknja serta ija bersabda kapadanja, oerdjarnja “Hei! Kamoe kadoewanja! Kerdjakenlah sebagei titah Radjamoe itoe sebab tlah koekatahoewi, jang kamoe kadoewanja di soeroeh oleh Radjamoe memboenoeh akandakoe. Kerna akoe tijada berdosa, maka inilah akan mendjadi alamat, jang tijada akan lama, nistjaja binasalah kradjaan Mengwi dan Blambangan itoe. Setlah terdengar oleh kadoewa brahmana itoe, maka kadoewanja terkedjoet, serta gemetar sekalijan anggotanja dengan gemletak segala sendi toelangnja, laloe kadoewanja djatoeh bersoedjoet di kakinja Kongtja, serta rombahnja “Ja toewankoe hamba minta ampoen sriboe ampoen di bawah leboe tlapakan toewankoe, dengan sebenar2 njalah hamba di titahkan oleh Radja hamba, akan memboenoeh toewan hamba, sebab dari pada kasoetjian toewan hamba, maka tijada bolehlah hamba kadoewa orang mengerdjaken akan dija, boleh ampoenilah sekalijan dosa hambamoe.” Maka Kongtja poen bersatda poelah kapadanja oedjarnja: “Djikalaoe demikian, baik kembalilah kamoe kadoewanja kapada Radjamoe, katakana jang kami tlah mati kaoe boenoeh.”

Adapoen kadoewa, bahmana itoe berpikirlah di dalam hatinja, djikalau akoe kembali, nistjaja kita orang herdoewa mati djoega di boenoeh oleh Radja, baiklah kita orang mengikoeti orang ini mendjadi hambanja. Laloe ija kadoewanja soedjoed kapada Kongtja, sumpahnja “Ja toewankoe, hamba kadoewa ini tijada hendak kembali lagi, mati hidoep hamba mengikoet toewan hamba. Maka Kongtja menjahoet, oedjamja: “Baiklah kaloe demikijan kahendakmoe. Marilah! Kita pergi ka Blangbangan.”

Laloe Kongtja berdjalan di atas ajar, kadoewa brahmana itoe di tjempaki kadoewa kasoetnja, laloe di soeroehnja menaiki, laloe di naikinja satoe saorang, toeroet berdjalan bersama2 di atas ajar, menoedjoe ka goenoeng Blangbangan. Setlah sampei ke batas negri Blangbangan di mana ada satoe boekit bernama goenoeng Semboeloengan, laloe meehrad (moktah) katiga2nja. Kamoedjian dari pada itoe, ada antara 40 a 50 tahoen lamanja, maka di Blangbangan tlah banjaklah orang Tjina doedoek disitoe. Soedah ada kira2 80 ataoe 100 orang banjaknja di djadikan 4 kampoeng Tjina, 1 Banjualit, 2 Kadaleman, 3 Lateng, dan 4 Kesatrijan. Ada poen di Banjoealit itoe, tempatnja di pinggir pantei, di sitoe djadi Pabeannja negri Blangbangan, serta ada sahbandamja jang berniaga serta memoengoet beja di sitoe dan di pelaboehannja banjaklah praoe jang pergi datang, dan Batawi pergi bernijaga ka Bali membli boedak.

Maka pada satoe kali, adalah saboewan praoe seloep jang besar sekali, dari Badoeng hendak belajar poelang ka Batawi, serta memoewat orang boedak laki prampoewan, ketjil dan besar, hina dina, ada kira2 60 a 70 orang banjaknja. Serta samoewanja terbelenggoe dengan rantei besi, dari leher sampei kakakinja, takoet djangan dija orang mengamoek atawa lari. Satlah prase itoe sampei di tentangannja goenoeng Semboeloengan itoe, maka praoenja tijada bisa melepasken tempat itoe, prasaannja ija tlah meninggalkan tempat itoe satoe hari satoe malam, serta mendapat angin baik, dengan ladjoe sekali rasanja. Tiba2 pada pagi hari praoenja taoe2 kembali poela kasitoe. Bebrapa2 kali ija berlajar, maka demikijan djoega, sampei ampir satoe boelan lamanja, masih djoega doedoek di sitoe, sampei bekalnja ampir habis. Maka ketakoetan serta dengan kasoekaran jang anat sangat sekalian orang jang ada didalam praoe itoe, di sangka dirinja mistjaja mati semoewanja di dalam laoet.

Adapoen di antara boedak banjak itoe maka adalah saorang bangsa satrija, jang toeroet terdjoewal di sitoe, serta terblenggoe dengan rantei besi kaki tangan serta lehernja,  sekonjong2nja ija terlepas dari blenggoenja, sebageimana seperti tlah di loetjoet oleh orang, serta kantjingnja masih tinggal terkantjing djoega baik2, laloe menari serta berkata2 dengan bahasa Tjina panggil2 sama djoeragan praoe sloep itoe pendjarnja: “Hei! Djoeragan! Katahoeilah olehmoe, akoelah Kongtja jang bernama Tan Tjindjin, tempatkoe di kemoentjak goenoeng Semboeloengan, bawalah akoe ka negri Blangbangan, soepaja akoe tinggal slama2nja disitoe.” Laloe ija tredjoen kadalam laoet, serta berdjalan baik2 di atas ajar, maka di ikoetlah oleh djoeragan itoe dengan bersampan. Satlah sampei di kemoentjaknja goenoeng Semboeloengan itoe, laloe orang itoe ingat akan dirinja, tiba2 kedapatan 3 batoe artjtja itoe, 1 besar, 2 ketjil, laloe di hambilnja3 artjtja itoe di bawanja toeroen kapraoenja, langsongnja berlajar menoedjoe ka pelaboehan Banjoealit.

Satlah sampei, laloe djoeragan itoe toeroen ka darat, mengoempoelkan sekalian orang Tjina di sitoe, sasoedahnja berkoempoel samoewanja, maka orang Bali satrija itoe kasoeroepan2 poela, dengan berkata2 bahasa Tjina, mentjeritaken hal achwalnja pada dahoeloe kala di Matjanpoetih dan di Mengwi, serta kena pitenah maoe di boenoeh di sitoe, ada poen kadoewa brahmana jang di soeroenja memboenoeh itoe, tlah mendjadi hambanja slama2nja. Maka ditjeritakannja kamoe sekalian orang Tjina di Blangbangan, kataoewilah (bahoewa) ada 3 bersaoedara, jang tengah doedoek (di) Batoedodol, jang bongsoe mendjadi harimau, doedoek di oetan Blangbangan dan Bali, sebageimana tjeritanja jang terseboei di atas itoe, serta iaj bersabda oedjamja: “Slama2nja akoe tijada hendak bergerak dari sini, soepaja koe katahoewi apa kadjadijannja negere Blangbangan dan Mengwi itoe, serta akoe berkehendak moewasken rasa hatikoe, memakan hatsilnja negri Blangbangan dan Bali.”

Satlah demikian, maka ditrimalah dengan segala soeka haji oleh sekalijan orang Tjina di Blangbangan serta di permoelijakan dengan palabagei kramejan dan persembahan jang indah2, laloe bermoefakatlah sekalijan orang Tjina di sitoe boewat mengardjakan roehmanja Kongtja di desa Lateng, sebab di sitoe sahadja tempatnja jang baik, lagi poen loewas adanja.

Satlah negri Blangbangan di olahken oleh Kompeni Olanda pada tahoen 1765 laloe berpindah dari Blangbangan kanegri Banjoewangi jang sekarang ini, serta orang Tjinanja sekali berpindah samoewanja dari sitoe, dengan Kongtja sekali di pindahkan, di doedoekan di kampoen Tjina ja itoe pada tempatnja jang sekarang ini djadi Kongtja itoe, di Banjoewangilah tempatnja jang benar, maka di tanah Bah ini, tjoema pesanggrahannja (persimpangan) sahadja, seperti di Tabanan, Mengwi, Bangli, Gyanjar, kloeng Koeng, Karang Asem dan Sasak, sabab tijada poenja tempatnja Kongtja sendiri, tjadinja orang Tjina masing2 mendoedoekan Kongtja di roemahnja sendiri2, sebab pengharapannja orang Tjina di tanah Bali sini orang poenja rezeki malainkan pemoedjaanja Kongtja djoewa, kerna dari pada itoe, makanja pada saban2 taboen, datanglah pendjaga Kongtja Banjoewangi berkoeliling tanah Bali, boewat meminta sedekah, akan di kerdja sembajang reboetan di Banjoewangi. Adapoen jang ada tempatnja Kongtja sendiri, di tanah Bali sini, tjoema di Boeleleng dan di Badoeng sahadja, kalau di Djawa tjoema di Basoeki dan di Prabalingga adanja.

Bahoewa ini tjeritra, tlah saja bawa tjeritranja saja poenja orang toewa (di Banjoe)wangi, sebab saja poenja datuq sama loe tlah mendjadi pendjaga roemah Kongtja di Banjoewangi.

Boeleleng 2 Juny 1880. Terkarang oleh saja.

 

KETERANGAN.

Tulisan sejarah Kongco Banyuwangi ini disalin dari tulisan ibu Myra Sidharta.

Beliau mendapatkan dari copy dokumen yang ada di museum negeri Belanda.

Copy didapatkan dari Prof Teuku Iskandar , yang menemukan dokumen dalam bahasa Melayu di KITLV di Leiden.

Salinan sebanyak 8 halaman .  (  OR  3214 Mal 709c ).

Artikel lengkap dapat dilihat pada  Journal  ASIAN CULTURE, #24, jUNE 2000.

Sayang, agaknya journal ini sudah berhenti terbit sekarang. (dari Taiwan)