Ikon Naga Hijau, qing-long青龙dan Harimau Putih bai-hu 白虎 di pintu masuk klenteng (bio, , ).

Sugiri Kustedja, Antariksa Sudikno, Purnama Salura.

ABSTRAK. Pada klenteng tradisional tua di pulau Jawa, di daerah pintu masuk utama; umumnya  akan dijumpai  ornamen  naga  hijau; qing-long青龙,青龍dan harimau putih; bai-hu 白虎.

Apakah sebenarnya makna dan latar belakang  elemen bangunan ini ?

Tulisan singkat ini akan menguraikan sumber dan makna simbolik dari ikon ini. Suatu analisa semiotik, hermeneutik, historis dan falsafah tradisional  masyarakat Tionghoa.

Bertolak dari falsafah kosmologi Tionghoa kuno mengenai alam semesta, dengan mengelompokan rasi-rasi bintang dan membagi 4 sektor langit; suatu zoomorphic, 4 hewan penguasa si-xiang四象 langit. Dalam worldview tradisionalsecara correlative cosmology dan correlative thinking  mengabungkan falsafah lima fase/unsur; wu-xing五行, falsafah mengenai warna dan ikon si-xiang四象 langit,  menghasilkan ikon-ikon yang  dapat dijumpai di dalam klenteng.  Dengan teori feng-shui 风水yang merupakan kompilasi falsafah kosmologi traditional, berfungsi sebagai suatu interface untuk  penerapan pada bangunan klenteng. Menggunakan lambang-lambang budaya masyarakat yang selama perjalanan sejarah telah bertransformasi menjadi mitologi. Secara umum dapat disebutkan bentuk dan organisasi ruangan bangunan klenteng merupakan proyeksi makrokosmos dalam format mikrokosmos yang terjangkau oleh dimensi manusiawi.

Kata kunci : arsitektur tradisional, ornamen, folk-culture, naga, harimau.

       Kosmologi si-xiang四象, 4 hewan simbolis penguasa langit. Kosmologi Tionghoa kuno mengenal adanya hewan-hewan mitologi penjaga di empat arah mata angin, naga biru (qing-long 青龍) di arah timur, macan putih(bai-hu 白虎) di arah barat, burung que雀merah(zhu-que 朱雀) di arah selatan, dan kura-kura hitam dan ular (xuan-wu 玄武) di arah utara.

Lambang-lambang hewan mitologi ini dapat dilihat pada bangunan klenteng tradisional, terutama naga hijau dan macan putih akan dapat dijumpai pada pintu masuk bangunan. Sebenarnya yang digambarkan sebagai hewan-hewan penunggu ini adalah visualisasi rasi-rasi bintang di langit. Setiap rasi hewan ini merupakan pengelompokan dari 7 rasi bintang berbeda yang dianggap rasi dasar.   Keseluruhan rasi bintang dasar menjadi 4 X 7 total 28 rasi.

Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa astronomi 28 rasi ini merupakan pengaruh dari astronomi Hindu (astronomi Hindu memperhitungkan 27 rasi). (Bruun, O. 2008:20)

 

Gambar 1. Mural di pintu masuk klenteng  Xie Tian Gong; Hiap Thian Kiong, Bandung.   Mural pada dinding barat pintu masuk:Hu xiao; 虎啸 macan putih mengaum, pada dinding timur pintu masuk:  Long yin; 龍吟 naga hijau bersenandung. (foto oleh penulis)

Setiap rasi dari 28 rasi bintang ini seharusnya terletak di sepanjang garis ekuator langit. Dalam istilah astronomi Tiongkok kuno disebut sebagai lunar mansion; er-shi-ba-xiu 二十八宿, daerah pergerakan bulan sepanjang tahun. Masing-masing rasi bintang diberi nama tokoh manusia, sesuai dengan faham anthropomorphic kosmologi Tionghoa kuno.

Tokoh-tokoh ini didewakan oleh masyarakat yang mempercayainya, beberapa diantaranya muncul dalam kelompok tokoh pada altar sebagian klenteng tradisional. Garis imajiner ekuator langit menurut astronomi Tiongkok kuno ini bila dibandingkan dengan posisi sekarang sesungguhnya telah menyimpang. Menurut perhitungan para ahli, posisi tepat sebagai ekuator langit menurut susunan yang digambarkan; dahulu pernah terjadi sekitar masa 2400 BCE.  Dengan ini dapat diperkirakan konsep astronomi ini telah dikenal lama sekali oleh budaya Tionghoa sejak masa kuno tersebut.

 

Gambar 2.  Gambar hewan mitologi langit.  (Urut menurut arah jarum jam), arah utara:kura-kura hitam dan ular (xuan-wu 玄武), arah timur: naga biru/hijau (qing-long 青龍), arah selatan: burung que雀merah (zhu-que 朱雀), arah barat: macan putih(bai-hu 白虎).

(http://image.baidu.com/i?ct=503316480&z=&tn=baiduimagedetail&word)

 

Gambar 3. Pengelompokan tiap 7 rasi bintang menjadi  seekor  hewan simbolis  penguasa langit.

Dari atas  berurutan: rasi Naga biru/hijau qing-long 青龍 (timur), rasi burung Phoenix merah zhu-que 朱雀 (selatan) , rasi Macan putih bai-hu 白虎 (barat), dan rasi kura-kura hitam xuan-wu 玄武 (utara). Masing-masing menempati keempat arah mata-angin langit ( Kelley, D.H. et al. 2011:329).

Tabel 1. 28 Rasi-rasi bintang pembentuk simbol 4 hewan langit, dan posisi pada ekuator langit. ( Skinner,S. 2006:108-109).  Terdapat penyimpangan; perbedaan posisi pada keadaan angkasa masa kini.
No Chinese Constellation in Wade-Giles,

pin-yin

English translationsNumber of (°) extent (basis 365.25 Chinese°)Starting (°) (basis 360 °) counting counterclockwiseAzure Dragon1Chiao, jiao 角Horn12,75113,62K’ang, kang 亢Neck9,75103,983Ti, di 氐Base/Root16,2587,964Fang 房Room5,7582,35Hsin, xin 心Heart676,386Wei , 尾Tail1858,647Chi, ji 箕Sieve/winnowing basket9,549,28

Black Tortoise8Tou, dou斗Dipper/measure22,7526,859Niu, 牛Oxherd boy719,9610Nu, 女Maiden119,1111Hsu, xu Void9,25012Wei, 危Danger (rooftop)16344,2313Shih, shi 室House18,25326,2414Pi, bi  壁Wall9,75316,63

White Tiger 15K’uei, kui 奎Astride18298,8916Lou , 婁Mound / tether12,75286,3217Wei, 胃Stomach15,25271,2918Mao, 昴Pleiades Constellation11260,4519Pi, bi 畢Conclusion or graduation16,5244,1920Tsui, zui 觜Beak / turtle0,5243,6921Shen, 參Crossing/mixture9,5234,33

Red Bird 22Ching, jing #Well30,25204,5123Kuei, gui 鬼Ghost2,5202,0524Liu, 柳Willow13,5188,7425Hsing, xing 星(Seven) Stars6,75182,0926Chang, zhang 張Spread (e.g bow or net)17,75164,627I, yi 翼Wings20,25144,6428Chen, zhen  軫Carriage seat18,75126,16                                                                                                   365,25

 

Gambar 4. Peta perbintangan angkasa dengan gambar garis ekuator  langit sekarang, serta garis ekuator langit sekitar 2400 BCE (garis putus-putus) yang merupakan lokasi 28 rasi secara lebih tepat. Sehingga astronomi kosmologi tradisional Tionghoa ketika diterapkan pada masa sekarang sebenarnya terdapat penyimpangan. Nama rasi Tionghoa tertulis dalam kotak. (Ronan, C.A. et al. 2000:vol2)

 

Tabel 2. Ikon 4 kelompok hewan penguasa langit pada 4 arah mata angin dihubungkan dengan falsafah 5 fase/unsur ; wu-xing五行, warna,  28 rasi bintang.

( Kelley,D.H. et al.2011:328).

Color Direction Element Asterism Lunar Mansions
Blue East Wood Blue Dragon Jiao, Kang, Di, Fang, Xin, Wei, Ji 角、亢、氐、房、心、尾、箕
North Water Black Warrior Dou, Niu, Nu, Xu, Wei, Shi, Pi 斗、牛、女、虚、危、室、壁
White West Metal White Tiger Kui, Lou, Wei, Mao, Bi, Zi, Shen 奎、娄、胃、昴、毕、觜、参
Red South Fire Red Bird Jing, Gui, Liu, Xing, Zhang, I, Zhen 井、鬼、柳、星、张、翼、轸

YellowCenterEarth

 

Gambar 5. Penamaan 28 rasi  bintang pada ekuator langit.  Nama-nama rasi  digambarkan sebagai manusia. Kim-sin / rupang tokoh-tokoh ini kadang dapat dijumpai di dalam beberapa klenteng tradisional. Sebagai suatu bentuk  anthropomorphic  semesta alam. (Kelley, D.H.2011:323)

 

Kerangka ; pola berpikir tradisional.

Correlative  thinking: Cara berpikir dengan menghubungkan adanya relasi antara bermacam paham falsafah alam semesta yang saling berhubungan, sangat berpengaruh dalam pemahaman masyarakat Tionghoa tradisional  mengenai kosmologi. Falsafah yang menyatukan berbagai konsep menjadi sinkron berupa pola kesatuan yang selaras. Misalnya menghubungkan dengan tubuh manusia, menghubungkan kehidupan manusia dan pengaruh benda-benda angkasa (astrologi dan horoscope). Anggapan manusia sebagai mikrokosmos yang serupa dengan makrokosmos semesta alam. Kepercayaan bahwa terjadinya bencana alam berhubungan dengan pemerintahan raja yang lalim/keliru, dsb. ( Henderson, John B. 1984:1-87)

         Correlative thinking secara tradisional dapat terlihat jelas dari pengembangan pemahaman Yi-jing, pada masa dinasti Han漢朝 (206 BCE – 220 CE) diawali dengan 8 trigram 八卦yang dihubungkan dengan 5 unsur/fase wu-xing 五行 juga dengan berbagai paham lain. Pada sisi lain  correlative thinking ini diterapkan juga pada beragam tafsir, diantaranya dengan menggabungkan teori  bermacam-macam numerology .

 

Gambar 6. Gambaran kosmologi correlative thinking.Penggabungan: kotak luo-shu, 8 trigram, mata angin, musim,warna, hewan penguasa mata-angin si-xiang四象, wu-xing五行, dan yin-yang陰陽.(Chang S.S.H. 1986: 213).   

 Correlative cosmology  merupakan contoh paling nyata dari hasil penyatuan berbagai pandangan kosmologi pada alam semesta ini bagi ranah aplikasi diantaranya menghasilkan konsep feng-shui 风水bangunan; geomancy; topomancy, sedangkan untuk alat bantunya dibentuk berupa kompas luo-pan 羅盤.

Cara pandang demikian menghasilkan kosmologi comprehensive / menyeluruh yang sangat berpengaruh dalam menentukan lokasi situs, tata ruang, arsitektur bangunan, letak kuburan, pembangunan ibu kota kerajaan. Keyakinan menghasilkan “kosmologi terapan” mikrokosmos yang digunakan pada setiap lingkungan binaan; dan dipercaya oleh hampir seluruh lapisan masyarakat Tionghoa tradisional.

Correlative cosmology juga menjadi dasar bagi banyak awal ilmu pengetahuan tradisional (berupa proto science dan pseudo science), astronomi, matematik, sejarah, sastra, moral, kedokteran, politik kerajaan, feng-shui, arsitektur bangunan, kepercayaan masyarakat, alchemy, numerology, dlsb.

 

Gambar 7.  Contoh correlative thinking secara visual.  Usaha sinkronisasi penggabungan bermacam paham dalam satu modul lengkap. Cermin tian-wen tong-jing天文 銅鏡, cermin tembaga sabda langit ( magic mirror) dari dinasti Tang. Digambarkan berurutan dari lingkaran terluar kearah dalam: 28 rasi bintang (xiu) dengan symbol hewan (melawan arah jarum jam), 12 hewan lambang tahun (searah jarum jam), 8 trigram pakwa, dan hewan ikon simbol 4 arah mata angin. ( Kelley, D H. 2011: 324).

         Correlative geometry merupakan pola penerapan correlative cosmology. Diantaranya dalam hal estetik, pada bangunan berarsitektur Tionghoa sangat tegas terlihat adanya sumbu simetris yang kuat membelah dua denah bangunan. Konsep ini berhubungan dengan falsafah dualisme alam, yin-yang 阴阳 menghasilkan keseimbangan dinamis; prinsip pola simetri ini diterapkan pada banyak hal dalam kehidupan ideal. Konsep sumbu simetris ini juga dapat dijumpai pada bangunan klenteng tua yang denahnya  berbentuk courtyard, si-he-yuan 四合院 di pulau Jawa.

Sumbu simetris ini juga merupakan proyeksi axis mundi pada denah bangunan, konsep sumbu semesta alam; berawal dari titik courtyard si-he-yuan四合院 dihubungkan secara imajiner dengan bintang utara yang dianggap sebagai poros alam. Bintang utara merupakan bintang yang tetap sepanjang tahun; sedangkan rasi-rasi bintang lainnya berpindah-pindah  mengelilingi nya.

          Geometrical cosmology.Correlative geometry demikian secara implisit akan tersirat paham geometrical cosmology.  Pada perencanaan kota-kota kuno diupayakan agar dapat terbentuk mikrosomos ideal yang merupakan proyeksi gambaran makrokosmos tradisional, pendekatan serupa juga diterapkan pada  arsitektur bangunan-bangunan di dalamnya.  Pola bentukan-bentukan demikian merupakan suatu paham yang telah dapat bertahan sepanjang sejarah peradaban dalam ranah bangunan berarsitektur vernakular Tionghoa hingga akhir masa kekaisaran Tiongkok (1911).

        Feng-shui  风水Untuk penerapan beragam falsafah dan cara pikir di atas pada ranah praksis keseharian; masyarakat  umum memanfaatkan teori  feng-shui   风水, dengan jasa seorang feng-shui-xian-sheng  风水先生 . Ia seseorang yang mampu menafsirkan dan mentransformasikan situasi tapak lokasi bangunan menjadi perlambangan symbol-simbol bagian tubuh manusia (anthropomorphic), dan menghubungkan kondisi alam menjadi lambang-lambang budaya  yang sudah dimengerti oleh masyarakat.

Keadaan lingkungan digambarkan sebagai sesuatu yang hidup, diesuaikan dengan landscape yang ada. Sehingga pada pelaksanaan dapat diperlakukan menyatu dengan teori kosmologi yang mendasarinya. Kondisi alami situasi tapak dapat diubah menjadi peta tapak yang dilengkapi dengan simbol-simbol ikonografi budaya, misalnya naga hijau qing-long 青龙 dan harimau putih bai-hu 白虎.

 

Gambar 8.  Simbolis zoomorphic  mewakili  topographic  alam.

( Skinner S. 2006: 59).

Berdasarkan paham yin-yang dan wu-xing 5 fase, penerapan pada bangunan berupa anggapan masyarakat tradisional bahwa segi empat merupakan bentuk ideal bangunan; dengan keempat sisinya sebaiknya tepat menghadap 4 arah mata angin. Sisi selatan melambangkan kehangatan, pertumbuhan, dan awal kehidupan. Sisi timur digambarkan arah terbitnya matahari, kelahiran dan kehidupan. Sisi barat sebaiknya dihindari; berupa arah terbenamnya matahari, akhir dari hari, akhir dari kehidupan. Sisi utara merupakan arah terburuk menghadapi hembusan angin dingin pada musim dingin, arah wilayah kegelapan abadi sepanjang tahun.

Dalam perlambangan kosmologi; keempat arah mata angin ini disimbolkan dengan 4 hewan mitologi penguasa langit dan warna, arah timur dengan naga hijau-biru qing-long 青龙unsur yang 阳, barat dengan macan putih; bai-hu 白虎unsur yin 阴, selatan dengan burung  zhu merah朱雀, utara dengan ular dan kura-kura hitam, bagian tengah dengan kirin kuning huanglin 黄璘.

Nama-nama keempat hewan penguasa langit ini selalu dapat dijumpai pada penamaan daerah, gunung, bukit, sungai, danau, hutan di banyak tempat di Tiongkok. Juga biasa digunakan bagi penamaan bangunan karya manusia, jembatan, jalan, pagoda, kuil dsb. Nama-nama ini secara langsung selalu dapat memberikan titik reference gambaran peta spasial ruang setempat yang dihubungkan dengan peta kosmologi alam sekitarnya.

Dalam simbol paham 5 fase: timur merupakan fase kayu 木musim semi, barat dengan fase logam 金  musim gugur dan panen, selatan berlambang fase api 火musim panas, dan utara dengan fase air 水shui, musim dingin. Sedangkan unsur fase  tanah土terlekat dengan manusia merupakan titik tengah pada peta kosmologi.

Tapak dianggap memiliki suatu lokasi xue 穴arti harafiah gua; sarang; lubang disamakan dengan tubuh manusia. Pada manusia titik qi terletak pada garis meridian merupakan titik akupuktur, dan memiliki daya dinamis kehidupan. Qi 气 arti harafiah bernafas, udara.

Aliran daya qi diyakini timbul secara alami, pergerakannya dipengaruhi oleh angin dan air (=feng-shui 风水). Karenanya perlu untuk memahami unsur gunung dan air disekitar lokasi. Dengan mengetahui kondisi qi dapatlah ditentukan yin-zhai 阴宅 (untuk tempat makam) dan yang-zhai 阳宅(untuk hunian yang hidup). Dengan pemilihan yang tepat akan didapatkan daya kehidupan dengan peruntungan yang bagus bagi penghuninya.  Xue穴arti harafiah sarang; biasa terletak pada bagian cekung dari medan yang dibatasi gunung atau perbukitan disisi utara dan barat laut. Pada sisi timur dengan perbukitan yang lebih rendah. Bentuk gunung bukit yang memanjang dilambangkan sebagai naga long 龙, meliuk-liuk berkepanjangan; merupakan nadi naga龍脈sebagai saluran aliran qi. Mirip dengan urat nadi pada tubuh manusia.

 

Gambar 10.  Penggambaran simbol  naga pada landscape.  Naga long 龙 pegunungan, digambarkan bergelombang merupakan unsur penentu utama feng-shui pemukiman (#7). Unsur dominan lain sha, dilengkapi sha air dari sungai. Pemukiman (#7) terletak pada lokasi xue穴.(Knapp, R. G. 1992:40)

Unsur air merupakan komponen penting dalam feng-shui, titik masuk aliran dan titik keluar air meninggalkan lokasi merupakan hal yang menentukan keadaan. Sungai yang berkelok-kelok (meander) merupakan alur yang dianggap baik oleh fengshui dengan kecepatan arus air yang perlahan-lahan. Disebutkan aliran demikian sebagai mengumpulkan qi di tapak yang dikelilingi sungainya. ( Fan Wei.1992:35-46).

        Denah bangunan klenteng tradisonal.  Dalam lingkungan bangunan falsafah ini diterapkan pada bentuk denah yang selalu  berbentuk segi-empat, sesuai dengan pandangan kosmologi Tionghoa tradisional: langit berupa kubah bulat dan bumi berbentuk segi-empat. Keempat garis sisi mengambarkan arah 4 mata angin.

Pada bangunan klenteng tradisional dengan denah dasar yang disebut si-he-yuan 四合院tersirat juga konsep pembagian langit dengan 4 sektor hewan penjaga langit si-xiang四象.Hadapan ideal bangunan ke arah mata-angin selatan. Bagian bangunan samping  disebut sebagai bangunan “naga pelindung; hu-long 護龍”. Pada bangunan naga pelindung hu-long 護龍ini ketinggian atap dan wuwungan harus lebih rendah dari pada ketinggian bangunan utama shang-fang 上房; serta bangunan induk lainnya dari unit inti si-he-yuan yang sudah ada. Bangunan terluar akan di huni oleh keluarga yang lebih muda pada hirarki kekerabatan keluarga.

Petak courtyard zhong-ting 中庭 yang terletak antara bangunan  hu-long dan unit si-he-yuan induk disebut sebagai “sumur naga long-jing 龍井“ dan “sumur matahari ri-jing 日 井. Sebutan ini untuk zhong-ting yang  terletak di kanan  si-he-yuan induk (dilihat dari muka bangunan) . Bila terletak di kiri bangunan si-he-yuan-induk dinamai “sumur harimau hu-jing 虎井” dan “sumur bulan yue-jing 月井”. Dari kedua courtyard samping ini terdapat masing-masing pintu tambahan keluar di bagian muka dan belakang bangunan.

 

Gambar 11.   Denah si-he-yuan dengan perluasan ke samping.

1 = pintu masuk, 2 = courtyard, 3 = ruang leluhur, 4 = sumur matahari ri-jing 日 井, 5 = sumur naga long-jing 龍井, 6 = sumur bulan yue-jing 月井, 7 = sumur harimau  hu-jing 虎井.

 

Gambar 12. Rumah Si-he-yuan四合院.  Dengan perluasan ke samping. (Knapp, Ronald G. 2000:25).

       Pada bangunan klenteng tradisional, pintu samping di sisi barat disebut sebgai pintu harimau putih, dan di sisi timur disebut pintu naga hijau. Di kedua sisi  ini akan terlihat relief ikon harimau putih dan naga hijau.

       Naga ; long :  hewan mitologi Tionghoa popular yang memiliki pelambangan sangat  rumit. Simbolisasi sumber kebaikan dan kemakmuran. (Berbeda dengan budaya barat naga digambarkan bersifat buruk dan jahat). Naga melambangkan kejantanan dan kesuburan, unsur Yang . Sejak dinasti Han ( 206 BC – 220 AD ) naga juga melambangkan raja sebagai “Putera langit”. Hewan ke 5  dalam sistim  sodiak 12 tahunan  kelahiran  Tionghoa; shio;  xiao .

Pada sistim perhitungan kalender dan falsafah yang berkaitan dengan ruang, dan waktu ganzhi 干支, naga biru/hijau dianggap hewan penjaga di timur, mengatur hujan dan musim semi.  Berhadapan di barat dengan macan putih, musim gugur. Ular hitam di utara berkaitan dengan musim dingin, phoenix merah di selatan dengan  musim panas.

 

Gambar 13.  Relief naga hijau di sisi pintu  masuk klenteng Tiao Kak Sie,  Cirebon. (foto penulis)

 

Gambar 14. Naga hijau di dekat pintu masuk klenteng Tay Kak Sie, Semarang. (foto penulis)

Naga dipercayai memiliki sifat supranatural, ia dapat mengecil sebesar ulat sutra; tapi juga dapat mengembang memenuhi semesta alam. Dapat kasat mata tapi juga dapat menghilang sesuai kemauannya sendiri. Usia naga ditentukan oleh dirinya sendiri. Naga memangsa burung walet, maka dalam upacara penghormtan naga dilepaslah burung-burung walet. Naga dapat melayang diatas awan; juga melintas diatas samudera.

Di wuwungan atap klenteng kadang terdapat 2 (dua) naga yang bermain bola api, di lambangkan sebagai pembawa pesan dari langit ke bumi bolak-balik. Juga dimaksudkan permainan yang membawa hujan bagi petani.

Dipercaya ada 4 jenis naga : “naga langit”; tian-long;天龍 sebagai daya tumbuh berkembangnya langit, “naga jiwa”; shen-long; 神龍 yang mengatur angin dan turunnya hujan, “naga bumi” di-long;  地龍 menguasai mata air dan aliran sungai, “naga penjaga harta” fu-cang-long 伏藏龍naga yang memiliki kemampuan  sehingga harta kekayaan tidak terlihat secara kasat mata .

Disamping juga ada 4 (empat) “naga raja”; long-wang龍王; yang menguasai 4(empat) samudera sekeliling bumi. Mereka tinggal diistana dasar samudera yang indah dan sangat berharga. Samudra timur 東海, samudra barat 西海, samudra utara北海, samudra selatan 南海.

Dalam mitologi Tionghoa naga digambarkan memiliki 9 kemiripan bentuk tubuh hewan: kepala unta, tanduk menjangan, mata kelinci, kuping lembu, leher ular, perut katak, sirip ikan karper, cakar rajawali, dan telapak harimau. Punggungnya bergerigi dengan 81 buah ujung gigi. Gerigi dileher mengarah kemuka. Gerigi dikepala bersambungan mirip pegunungan. Kedua sisi mulutnya berjambang, dan jangut didagunya ditempati mutiara. Nafasnya berbentuk kabut, kadang berubah menjadi air. Kedangkala juga berbentuk semburan api.

Hiasan naga pada jubah pejabat dan perlengkapannya berbeda pada jumlah jari cakarnya;   mununjukan tingkatan resminya, 5(lima) cakar untuk raja, putra dan pangeran tingkat pertama dan kedua, 4(empat) cakar untuk pangeran tingkat tiga dan empat, cakar 3(tiga) untuk pejabat.

        Harimau; hu; Disebut sebagai raja hewan buas, digunakan sebagai simbol kejantanan, keberanian. Sifat  garang dan ketegasan. Simbol harimau  banyak  dipakai dalam kemiliteran Tiongkok kuno.  Gambar kepala harimau sering ditempatkan diambang atas pintu masuk rumah,  sebagai penangkal agar roh jahat tidak berani memasuki rumah ybs.

 

Gambar 15.  Harimau  putih  di sisi pintu masuk klenteng Tiao Kak Sie, Cirebon. (foto penulis)

 

Gambar 16.  Harimau putih di dekat pintu masuk klenteng Tay Kak  Sie, Semarang.(foto penulis)

   Topi dan alas kaki anak-anak juga digambari kepala harimau untuk tujuan perlindungan dan menghindari gangguan.  Banyak  simbol harimau muncul pada keramik dan kerajinan perunggu (bronze). Harimau juga merupakan hewan ke 3 dalam sodiak kelahiran Tionghoa 12 tahunan; shio, xiao . Ada kepercayaan setelah berusia 500 tahun tubuh harimau akan berubah  berwarna putih.

     Pasangan ikon naga hijau dan harimau putih pada pintu masuk klenteng, dipercayai masyarakat umum akan menjauhkan roh-roh buruk  sehingga tidak berani masuk kedalam bangunan klenteng.

Sumber pustaka .

Bruun, Ole. 2008.  An introduction to Feng-shui. Cambridge: Cambridge University Press.

Chang, Simon Shieh-Haw. 1986. The spatial organization and socio-cultural basic of traditional courtyard houses.  UK. University of Edinburgh.

Fan Wei. 1992. Village feng-shui principles. In Ronald G. Knapp. Chinese Landscape. Honolulu, Hawaii: University of Hawaii Press.

Feuchtwang, Stephan D.R. 1974. An Anthropological analysis of Chinese geomancy. Vientiane, Laos: Vithagana.

Henderson, John B. 1984. The development and decline of Chinese cosmology. Columbia University Press. New York.

Kelley, David H. Milone, Eugene F.   2011. Exploring Ancient Skies. 2/e.   Springer.  New York.

Knapp, Ronald G. 1990. The Chinese house. Craft, symbol and the folk tradition. Oxford University Press. Hong Kong.

Knapp, Ronald G. 2000.China’s Old Dwellings.University of Hawai’i Press.Honolulu.

Knapp, Ronald G. 2003. Asia’s Old Dwellings. Tradition, resilience and change. Oxford University Press, Hong Kong.

Knapp, Ronald G. 2006. Chinese house. The architectural heritage of a nation. Tuttle.

Ronan, Colin A. 2006. The Shorter Science and Civilisation in China. Volume 5. Cambridge University Press. Cambridge. UK.