2013 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2013 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

A San Francisco cable car holds 60 people. This blog was viewed about 2,800 times in 2013. If it were a cable car, it would take about 47 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

2012 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

600 people reached the top of Mt. Everest in 2012. This blog got about 2,700 views in 2012. If every person who reached the top of Mt. Everest viewed this blog, it would have taken 5 years to get that many views.

Click here to see the complete report.

Ikon Naga Hijau, qing-long青龙dan Harimau Putih bai-hu 白虎 di pintu masuk klenteng (bio, 庙, 廟).

 

Ikon Naga Hijau, qing-long青龙dan Harimau Putih bai-hu 白虎 di pintu masuk klenteng (bio, , ).

Sugiri Kustedja, Antariksa Sudikno, Purnama Salura.

ABSTRAK. Pada klenteng tradisional tua di pulau Jawa, di daerah pintu masuk utama; umumnya  akan dijumpai  ornamen  naga  hijau; qing-long青龙,青龍dan harimau putih; bai-hu 白虎.

Apakah sebenarnya makna dan latar belakang  elemen bangunan ini ?

Tulisan singkat ini akan menguraikan sumber dan makna simbolik dari ikon ini. Suatu analisa semiotik, hermeneutik, historis dan falsafah tradisional  masyarakat Tionghoa.

Bertolak dari falsafah kosmologi Tionghoa kuno mengenai alam semesta, dengan mengelompokan rasi-rasi bintang dan membagi 4 sektor langit; suatu zoomorphic, 4 hewan penguasa si-xiang四象 langit. Dalam worldview tradisionalsecara correlative cosmology dan correlative thinking  mengabungkan falsafah lima fase/unsur; wu-xing五行, falsafah mengenai warna dan ikon si-xiang四象 langit,  menghasilkan ikon-ikon yang  dapat dijumpai di dalam klenteng.  Dengan teori feng-shui 风水yang merupakan kompilasi falsafah kosmologi traditional, berfungsi sebagai suatu interface untuk  penerapan pada bangunan klenteng. Menggunakan lambang-lambang budaya masyarakat yang selama perjalanan sejarah telah bertransformasi menjadi mitologi. Secara umum dapat disebutkan bentuk dan organisasi ruangan bangunan klenteng merupakan proyeksi makrokosmos dalam format mikrokosmos yang terjangkau oleh dimensi manusiawi.

Kata kunci : arsitektur tradisional, ornamen, folk-culture, naga, harimau.

       Kosmologi si-xiang四象, 4 hewan simbolis penguasa langit. Kosmologi Tionghoa kuno mengenal adanya hewan-hewan mitologi penjaga di empat arah mata angin, naga biru (qing-long 青龍) di arah timur, macan putih(bai-hu 白虎) di arah barat, burung que雀merah(zhu-que 朱雀) di arah selatan, dan kura-kura hitam dan ular (xuan-wu 玄武) di arah utara.

Lambang-lambang hewan mitologi ini dapat dilihat pada bangunan klenteng tradisional, terutama naga hijau dan macan putih akan dapat dijumpai pada pintu masuk bangunan. Sebenarnya yang digambarkan sebagai hewan-hewan penunggu ini adalah visualisasi rasi-rasi bintang di langit. Setiap rasi hewan ini merupakan pengelompokan dari 7 rasi bintang berbeda yang dianggap rasi dasar.   Keseluruhan rasi bintang dasar menjadi 4 X 7 total 28 rasi.

Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa astronomi 28 rasi ini merupakan pengaruh dari astronomi Hindu (astronomi Hindu memperhitungkan 27 rasi). (Bruun, O. 2008:20)

 

Gambar 1. Mural di pintu masuk klenteng  Xie Tian Gong; Hiap Thian Kiong, Bandung.   Mural pada dinding barat pintu masuk:Hu xiao; 虎啸 macan putih mengaum, pada dinding timur pintu masuk:  Long yin; 龍吟 naga hijau bersenandung. (foto oleh penulis)

Setiap rasi dari 28 rasi bintang ini seharusnya terletak di sepanjang garis ekuator langit. Dalam istilah astronomi Tiongkok kuno disebut sebagai lunar mansion; er-shi-ba-xiu 二十八宿, daerah pergerakan bulan sepanjang tahun. Masing-masing rasi bintang diberi nama tokoh manusia, sesuai dengan faham anthropomorphic kosmologi Tionghoa kuno.

Tokoh-tokoh ini didewakan oleh masyarakat yang mempercayainya, beberapa diantaranya muncul dalam kelompok tokoh pada altar sebagian klenteng tradisional. Garis imajiner ekuator langit menurut astronomi Tiongkok kuno ini bila dibandingkan dengan posisi sekarang sesungguhnya telah menyimpang. Menurut perhitungan para ahli, posisi tepat sebagai ekuator langit menurut susunan yang digambarkan; dahulu pernah terjadi sekitar masa 2400 BCE.  Dengan ini dapat diperkirakan konsep astronomi ini telah dikenal lama sekali oleh budaya Tionghoa sejak masa kuno tersebut.

 

Gambar 2.  Gambar hewan mitologi langit.  (Urut menurut arah jarum jam), arah utara:kura-kura hitam dan ular (xuan-wu 玄武), arah timur: naga biru/hijau (qing-long 青龍), arah selatan: burung que雀merah (zhu-que 朱雀), arah barat: macan putih(bai-hu 白虎).

(http://image.baidu.com/i?ct=503316480&z=&tn=baiduimagedetail&word)

 

Gambar 3. Pengelompokan tiap 7 rasi bintang menjadi  seekor  hewan simbolis  penguasa langit.

Dari atas  berurutan: rasi Naga biru/hijau qing-long 青龍 (timur), rasi burung Phoenix merah zhu-que 朱雀 (selatan) , rasi Macan putih bai-hu 白虎 (barat), dan rasi kura-kura hitam xuan-wu 玄武 (utara). Masing-masing menempati keempat arah mata-angin langit ( Kelley, D.H. et al. 2011:329).

Tabel 1. 28 Rasi-rasi bintang pembentuk simbol 4 hewan langit, dan posisi pada ekuator langit. ( Skinner,S. 2006:108-109).  Terdapat penyimpangan; perbedaan posisi pada keadaan angkasa masa kini.
No Chinese Constellation in Wade-Giles,

pin-yin

English translationsNumber of (°) extent (basis 365.25 Chinese°)Starting (°) (basis 360 °) counting counterclockwiseAzure Dragon1Chiao, jiao 角Horn12,75113,62K’ang, kang 亢Neck9,75103,983Ti, di 氐Base/Root16,2587,964Fang 房Room5,7582,35Hsin, xin 心Heart676,386Wei , 尾Tail1858,647Chi, ji 箕Sieve/winnowing basket9,549,28

Black Tortoise8Tou, dou斗Dipper/measure22,7526,859Niu, 牛Oxherd boy719,9610Nu, 女Maiden119,1111Hsu, xu Void9,25012Wei, 危Danger (rooftop)16344,2313Shih, shi 室House18,25326,2414Pi, bi  壁Wall9,75316,63

White Tiger 15K’uei, kui 奎Astride18298,8916Lou , 婁Mound / tether12,75286,3217Wei, 胃Stomach15,25271,2918Mao, 昴Pleiades Constellation11260,4519Pi, bi 畢Conclusion or graduation16,5244,1920Tsui, zui 觜Beak / turtle0,5243,6921Shen, 參Crossing/mixture9,5234,33

Red Bird 22Ching, jing #Well30,25204,5123Kuei, gui 鬼Ghost2,5202,0524Liu, 柳Willow13,5188,7425Hsing, xing 星(Seven) Stars6,75182,0926Chang, zhang 張Spread (e.g bow or net)17,75164,627I, yi 翼Wings20,25144,6428Chen, zhen  軫Carriage seat18,75126,16                                                                                                   365,25

 

Gambar 4. Peta perbintangan angkasa dengan gambar garis ekuator  langit sekarang, serta garis ekuator langit sekitar 2400 BCE (garis putus-putus) yang merupakan lokasi 28 rasi secara lebih tepat. Sehingga astronomi kosmologi tradisional Tionghoa ketika diterapkan pada masa sekarang sebenarnya terdapat penyimpangan. Nama rasi Tionghoa tertulis dalam kotak. (Ronan, C.A. et al. 2000:vol2)

 

Tabel 2. Ikon 4 kelompok hewan penguasa langit pada 4 arah mata angin dihubungkan dengan falsafah 5 fase/unsur ; wu-xing五行, warna,  28 rasi bintang.

( Kelley,D.H. et al.2011:328).

Color Direction Element Asterism Lunar Mansions
Blue East Wood Blue Dragon Jiao, Kang, Di, Fang, Xin, Wei, Ji 角、亢、氐、房、心、尾、箕
North Water Black Warrior Dou, Niu, Nu, Xu, Wei, Shi, Pi 斗、牛、女、虚、危、室、壁
White West Metal White Tiger Kui, Lou, Wei, Mao, Bi, Zi, Shen 奎、娄、胃、昴、毕、觜、参
Red South Fire Red Bird Jing, Gui, Liu, Xing, Zhang, I, Zhen 井、鬼、柳、星、张、翼、轸

YellowCenterEarth

 

Gambar 5. Penamaan 28 rasi  bintang pada ekuator langit.  Nama-nama rasi  digambarkan sebagai manusia. Kim-sin / rupang tokoh-tokoh ini kadang dapat dijumpai di dalam beberapa klenteng tradisional. Sebagai suatu bentuk  anthropomorphic  semesta alam. (Kelley, D.H.2011:323)

 

Kerangka ; pola berpikir tradisional.

Correlative  thinking: Cara berpikir dengan menghubungkan adanya relasi antara bermacam paham falsafah alam semesta yang saling berhubungan, sangat berpengaruh dalam pemahaman masyarakat Tionghoa tradisional  mengenai kosmologi. Falsafah yang menyatukan berbagai konsep menjadi sinkron berupa pola kesatuan yang selaras. Misalnya menghubungkan dengan tubuh manusia, menghubungkan kehidupan manusia dan pengaruh benda-benda angkasa (astrologi dan horoscope). Anggapan manusia sebagai mikrokosmos yang serupa dengan makrokosmos semesta alam. Kepercayaan bahwa terjadinya bencana alam berhubungan dengan pemerintahan raja yang lalim/keliru, dsb. ( Henderson, John B. 1984:1-87)

         Correlative thinking secara tradisional dapat terlihat jelas dari pengembangan pemahaman Yi-jing, pada masa dinasti Han漢朝 (206 BCE – 220 CE) diawali dengan 8 trigram 八卦yang dihubungkan dengan 5 unsur/fase wu-xing 五行 juga dengan berbagai paham lain. Pada sisi lain  correlative thinking ini diterapkan juga pada beragam tafsir, diantaranya dengan menggabungkan teori  bermacam-macam numerology .

 

Gambar 6. Gambaran kosmologi correlative thinking.Penggabungan: kotak luo-shu, 8 trigram, mata angin, musim,warna, hewan penguasa mata-angin si-xiang四象, wu-xing五行, dan yin-yang陰陽.(Chang S.S.H. 1986: 213).   

 Correlative cosmology  merupakan contoh paling nyata dari hasil penyatuan berbagai pandangan kosmologi pada alam semesta ini bagi ranah aplikasi diantaranya menghasilkan konsep feng-shui 风水bangunan; geomancy; topomancy, sedangkan untuk alat bantunya dibentuk berupa kompas luo-pan 羅盤.

Cara pandang demikian menghasilkan kosmologi comprehensive / menyeluruh yang sangat berpengaruh dalam menentukan lokasi situs, tata ruang, arsitektur bangunan, letak kuburan, pembangunan ibu kota kerajaan. Keyakinan menghasilkan “kosmologi terapan” mikrokosmos yang digunakan pada setiap lingkungan binaan; dan dipercaya oleh hampir seluruh lapisan masyarakat Tionghoa tradisional.

Correlative cosmology juga menjadi dasar bagi banyak awal ilmu pengetahuan tradisional (berupa proto science dan pseudo science), astronomi, matematik, sejarah, sastra, moral, kedokteran, politik kerajaan, feng-shui, arsitektur bangunan, kepercayaan masyarakat, alchemy, numerology, dlsb.

 

Gambar 7.  Contoh correlative thinking secara visual.  Usaha sinkronisasi penggabungan bermacam paham dalam satu modul lengkap. Cermin tian-wen tong-jing天文 銅鏡, cermin tembaga sabda langit ( magic mirror) dari dinasti Tang. Digambarkan berurutan dari lingkaran terluar kearah dalam: 28 rasi bintang (xiu) dengan symbol hewan (melawan arah jarum jam), 12 hewan lambang tahun (searah jarum jam), 8 trigram pakwa, dan hewan ikon simbol 4 arah mata angin. ( Kelley, D H. 2011: 324).

         Correlative geometry merupakan pola penerapan correlative cosmology. Diantaranya dalam hal estetik, pada bangunan berarsitektur Tionghoa sangat tegas terlihat adanya sumbu simetris yang kuat membelah dua denah bangunan. Konsep ini berhubungan dengan falsafah dualisme alam, yin-yang 阴阳 menghasilkan keseimbangan dinamis; prinsip pola simetri ini diterapkan pada banyak hal dalam kehidupan ideal. Konsep sumbu simetris ini juga dapat dijumpai pada bangunan klenteng tua yang denahnya  berbentuk courtyard, si-he-yuan 四合院 di pulau Jawa.

Sumbu simetris ini juga merupakan proyeksi axis mundi pada denah bangunan, konsep sumbu semesta alam; berawal dari titik courtyard si-he-yuan四合院 dihubungkan secara imajiner dengan bintang utara yang dianggap sebagai poros alam. Bintang utara merupakan bintang yang tetap sepanjang tahun; sedangkan rasi-rasi bintang lainnya berpindah-pindah  mengelilingi nya.

          Geometrical cosmology.Correlative geometry demikian secara implisit akan tersirat paham geometrical cosmology.  Pada perencanaan kota-kota kuno diupayakan agar dapat terbentuk mikrosomos ideal yang merupakan proyeksi gambaran makrokosmos tradisional, pendekatan serupa juga diterapkan pada  arsitektur bangunan-bangunan di dalamnya.  Pola bentukan-bentukan demikian merupakan suatu paham yang telah dapat bertahan sepanjang sejarah peradaban dalam ranah bangunan berarsitektur vernakular Tionghoa hingga akhir masa kekaisaran Tiongkok (1911).

        Feng-shui  风水Untuk penerapan beragam falsafah dan cara pikir di atas pada ranah praksis keseharian; masyarakat  umum memanfaatkan teori  feng-shui   风水, dengan jasa seorang feng-shui-xian-sheng  风水先生 . Ia seseorang yang mampu menafsirkan dan mentransformasikan situasi tapak lokasi bangunan menjadi perlambangan symbol-simbol bagian tubuh manusia (anthropomorphic), dan menghubungkan kondisi alam menjadi lambang-lambang budaya  yang sudah dimengerti oleh masyarakat.

Keadaan lingkungan digambarkan sebagai sesuatu yang hidup, diesuaikan dengan landscape yang ada. Sehingga pada pelaksanaan dapat diperlakukan menyatu dengan teori kosmologi yang mendasarinya. Kondisi alami situasi tapak dapat diubah menjadi peta tapak yang dilengkapi dengan simbol-simbol ikonografi budaya, misalnya naga hijau qing-long 青龙 dan harimau putih bai-hu 白虎.

 

Gambar 8.  Simbolis zoomorphic  mewakili  topographic  alam.

( Skinner S. 2006: 59).

Berdasarkan paham yin-yang dan wu-xing 5 fase, penerapan pada bangunan berupa anggapan masyarakat tradisional bahwa segi empat merupakan bentuk ideal bangunan; dengan keempat sisinya sebaiknya tepat menghadap 4 arah mata angin. Sisi selatan melambangkan kehangatan, pertumbuhan, dan awal kehidupan. Sisi timur digambarkan arah terbitnya matahari, kelahiran dan kehidupan. Sisi barat sebaiknya dihindari; berupa arah terbenamnya matahari, akhir dari hari, akhir dari kehidupan. Sisi utara merupakan arah terburuk menghadapi hembusan angin dingin pada musim dingin, arah wilayah kegelapan abadi sepanjang tahun.

Dalam perlambangan kosmologi; keempat arah mata angin ini disimbolkan dengan 4 hewan mitologi penguasa langit dan warna, arah timur dengan naga hijau-biru qing-long 青龙unsur yang 阳, barat dengan macan putih; bai-hu 白虎unsur yin 阴, selatan dengan burung  zhu merah朱雀, utara dengan ular dan kura-kura hitam, bagian tengah dengan kirin kuning huang-lin 黄璘.

Nama-nama keempat hewan penguasa langit ini selalu dapat dijumpai pada penamaan daerah, gunung, bukit, sungai, danau, hutan di banyak tempat di Tiongkok. Juga biasa digunakan bagi penamaan bangunan karya manusia, jembatan, jalan, pagoda, kuil dsb. Nama-nama ini secara langsung selalu dapat memberikan titik reference gambaran peta spasial ruang setempat yang dihubungkan dengan peta kosmologi alam sekitarnya.

Dalam simbol paham 5 fase: timur merupakan fase kayu 木musim semi, barat dengan fase logam 金  musim gugur dan panen, selatan berlambang fase api 火musim panas, dan utara dengan fase air 水shui, musim dingin. Sedangkan unsur fase  tanah土terlekat dengan manusia merupakan titik tengah pada peta kosmologi.

Tapak dianggap memiliki suatu lokasi xue 穴arti harafiah gua; sarang; lubang disamakan dengan tubuh manusia. Pada manusia titik qi terletak pada garis meridian merupakan titik akupuktur, dan memiliki daya dinamis kehidupan. Qi 气 arti harafiah bernafas, udara.

Aliran daya qi diyakini timbul secara alami, pergerakannya dipengaruhi oleh angin dan air (=feng-shui 风水). Karenanya perlu untuk memahami unsur gunung dan air disekitar lokasi. Dengan mengetahui kondisi qi dapatlah ditentukan yin-zhai 阴宅 (untuk tempat makam) dan yang-zhai 阳宅(untuk hunian yang hidup). Dengan pemilihan yang tepat akan didapatkan daya kehidupan dengan peruntungan yang bagus bagi penghuninya.  Xue穴arti harafiah sarang; biasa terletak pada bagian cekung dari medan yang dibatasi gunung atau perbukitan disisi utara dan barat laut. Pada sisi timur dengan perbukitan yang lebih rendah. Bentuk gunung bukit yang memanjang dilambangkan sebagai naga long 龙, meliuk-liuk berkepanjangan; merupakan nadi naga龍脈sebagai saluran aliran qi. Mirip dengan urat nadi pada tubuh manusia.

 

Gambar 10.  Penggambaran simbol  naga pada landscape.  Naga long 龙 pegunungan, digambarkan bergelombang merupakan unsur penentu utama feng-shui pemukiman (#7). Unsur dominan lain sha, dilengkapi sha air dari sungai. Pemukiman (#7) terletak pada lokasi xue穴.(Knapp, R. G. 1992:40)

Unsur air merupakan komponen penting dalam feng-shui, titik masuk aliran dan titik keluar air meninggalkan lokasi merupakan hal yang menentukan keadaan. Sungai yang berkelok-kelok (meander) merupakan alur yang dianggap baik oleh fengshui dengan kecepatan arus air yang perlahan-lahan. Disebutkan aliran demikian sebagai mengumpulkan qi di tapak yang dikelilingi sungainya. ( Fan Wei.1992:35-46).

        Denah bangunan klenteng tradisonal.  Dalam lingkungan bangunan falsafah ini diterapkan pada bentuk denah yang selalu  berbentuk segi-empat, sesuai dengan pandangan kosmologi Tionghoa tradisional: langit berupa kubah bulat dan bumi berbentuk segi-empat. Keempat garis sisi mengambarkan arah 4 mata angin.

Pada bangunan klenteng tradisional dengan denah dasar yang disebut si-he-yuan 四合院tersirat juga konsep pembagian langit dengan 4 sektor hewan penjaga langit si-xiang四象.Hadapan ideal bangunan ke arah mata-angin selatan. Bagian bangunan samping  disebut sebagai bangunan “naga pelindung; hu-long 護龍”. Pada bangunan naga pelindung hu-long 護龍ini ketinggian atap dan wuwungan harus lebih rendah dari pada ketinggian bangunan utama shang-fang 上房; serta bangunan induk lainnya dari unit inti si-he-yuan yang sudah ada. Bangunan terluar akan di huni oleh keluarga yang lebih muda pada hirarki kekerabatan keluarga.

Petak courtyard zhong-ting 中庭 yang terletak antara bangunan  hu-long dan unit si-he-yuan induk disebut sebagai “sumur naga long-jing 龍井“ dan “sumur matahari ri-jing 日 井. Sebutan ini untuk zhong-ting yang  terletak di kanan  si-he-yuan induk (dilihat dari muka bangunan) . Bila terletak di kiri bangunan si-he-yuan-induk dinamai “sumur harimau hu-jing 虎井” dan “sumur bulan yue-jing 月井”. Dari kedua courtyard samping ini terdapat masing-masing pintu tambahan keluar di bagian muka dan belakang bangunan.

 

Gambar 11.   Denah si-he-yuan dengan perluasan ke samping.

1 = pintu masuk, 2 = courtyard, 3 = ruang leluhur, 4 = sumur matahari ri-jing 日 井, 5 = sumur naga long-jing 龍井, 6 = sumur bulan yue-jing 月井, 7 = sumur harimau  hu-jing 虎井.

 

Gambar 12. Rumah Si-he-yuan四合院.  Dengan perluasan ke samping. (Knapp, Ronald G. 2000:25).

       Pada bangunan klenteng tradisional, pintu samping di sisi barat disebut sebgai pintu harimau putih, dan di sisi timur disebut pintu naga hijau. Di kedua sisi  ini akan terlihat relief ikon harimau putih dan naga hijau.

       Naga ; long :  hewan mitologi Tionghoa popular yang memiliki pelambangan sangat  rumit. Simbolisasi sumber kebaikan dan kemakmuran. (Berbeda dengan budaya barat naga digambarkan bersifat buruk dan jahat). Naga melambangkan kejantanan dan kesuburan, unsur Yang . Sejak dinasti Han ( 206 BC – 220 AD ) naga juga melambangkan raja sebagai “Putera langit”. Hewan ke 5  dalam sistim  sodiak 12 tahunan  kelahiran  Tionghoa; shio;  xiao .

Pada sistim perhitungan kalender dan falsafah yang berkaitan dengan ruang, dan waktu ganzhi 干支, naga biru/hijau dianggap hewan penjaga di timur, mengatur hujan dan musim semi.  Berhadapan di barat dengan macan putih, musim gugur. Ular hitam di utara berkaitan dengan musim dingin, phoenix merah di selatan dengan  musim panas.

 

Gambar 13.  Relief naga hijau di sisi pintu  masuk klenteng Tiao Kak Sie,  Cirebon. (foto penulis)

 

Gambar 14. Naga hijau di dekat pintu masuk klenteng Tay Kak Sie, Semarang. (foto penulis)

Naga dipercayai memiliki sifat supranatural, ia dapat mengecil sebesar ulat sutra; tapi juga dapat mengembang memenuhi semesta alam. Dapat kasat mata tapi juga dapat menghilang sesuai kemauannya sendiri. Usia naga ditentukan oleh dirinya sendiri. Naga memangsa burung walet, maka dalam upacara penghormtan naga dilepaslah burung-burung walet. Naga dapat melayang diatas awan; juga melintas diatas samudera.

Di wuwungan atap klenteng kadang terdapat 2 (dua) naga yang bermain bola api, di lambangkan sebagai pembawa pesan dari langit ke bumi bolak-balik. Juga dimaksudkan permainan yang membawa hujan bagi petani.

Dipercaya ada 4 jenis naga : “naga langit”; tian-long;天龍 sebagai daya tumbuh berkembangnya langit, “naga jiwa”; shen-long; 神龍 yang mengatur angin dan turunnya hujan, “naga bumi” di-long;  地龍 menguasai mata air dan aliran sungai, “naga penjaga harta” fu-cang-long 伏藏龍naga yang memiliki kemampuan  sehingga harta kekayaan tidak terlihat secara kasat mata .

Disamping juga ada 4 (empat) “naga raja”; long-wang龍王; yang menguasai 4(empat) samudera sekeliling bumi. Mereka tinggal diistana dasar samudera yang indah dan sangat berharga. Samudra timur 東海, samudra barat 西海, samudra utara北海, samudra selatan 南海.

Dalam mitologi Tionghoa naga digambarkan memiliki 9 kemiripan bentuk tubuh hewan: kepala unta, tanduk menjangan, mata kelinci, kuping lembu, leher ular, perut katak, sirip ikan karper, cakar rajawali, dan telapak harimau. Punggungnya bergerigi dengan 81 buah ujung gigi. Gerigi dileher mengarah kemuka. Gerigi dikepala bersambungan mirip pegunungan. Kedua sisi mulutnya berjambang, dan jangut didagunya ditempati mutiara. Nafasnya berbentuk kabut, kadang berubah menjadi air. Kedangkala juga berbentuk semburan api.

Hiasan naga pada jubah pejabat dan perlengkapannya berbeda pada jumlah jari cakarnya;   mununjukan tingkatan resminya, 5(lima) cakar untuk raja, putra dan pangeran tingkat pertama dan kedua, 4(empat) cakar untuk pangeran tingkat tiga dan empat, cakar 3(tiga) untuk pejabat.

        Harimau; hu; Disebut sebagai raja hewan buas, digunakan sebagai simbol kejantanan, keberanian. Sifat  garang dan ketegasan. Simbol harimau  banyak  dipakai dalam kemiliteran Tiongkok kuno.  Gambar kepala harimau sering ditempatkan diambang atas pintu masuk rumah,  sebagai penangkal agar roh jahat tidak berani memasuki rumah ybs.

 

Gambar 15.  Harimau  putih  di sisi pintu masuk klenteng Tiao Kak Sie, Cirebon. (foto penulis)

 

Gambar 16.  Harimau putih di dekat pintu masuk klenteng Tay Kak  Sie, Semarang.(foto penulis)

   Topi dan alas kaki anak-anak juga digambari kepala harimau untuk tujuan perlindungan dan menghindari gangguan.  Banyak  simbol harimau muncul pada keramik dan kerajinan perunggu (bronze). Harimau juga merupakan hewan ke 3 dalam sodiak kelahiran Tionghoa 12 tahunan; shio, xiao . Ada kepercayaan setelah berusia 500 tahun tubuh harimau akan berubah  berwarna putih.

     Pasangan ikon naga hijau dan harimau putih pada pintu masuk klenteng, dipercayai masyarakat umum akan menjauhkan roh-roh buruk  sehingga tidak berani masuk kedalam bangunan klenteng.

Sumber pustaka .

Bruun, Ole. 2008.  An introduction to Feng-shui. Cambridge: Cambridge University Press.

Chang, Simon Shieh-Haw. 1986. The spatial organization and socio-cultural basic of traditional courtyard houses.  UK. University of Edinburgh.

Fan Wei. 1992. Village feng-shui principles. In Ronald G. Knapp. Chinese Landscape. Honolulu, Hawaii: University of Hawaii Press.

Feuchtwang, Stephan D.R. 1974. An Anthropological analysis of Chinese geomancy. Vientiane, Laos: Vithagana.

Henderson, John B. 1984. The development and decline of Chinese cosmology. Columbia University Press. New York.

Kelley, David H. Milone, Eugene F.   2011. Exploring Ancient Skies. 2/e.   Springer.  New York.

Knapp, Ronald G. 1990. The Chinese house. Craft, symbol and the folk tradition. Oxford University Press. Hong Kong.

Knapp, Ronald G. 2000.China’s Old Dwellings.University of Hawai’i Press.Honolulu.

Knapp, Ronald G. 2003. Asia’s Old Dwellings. Tradition, resilience and change. Oxford University Press, Hong Kong.

Knapp, Ronald G. 2006. Chinese house. The architectural heritage of a nation. Tuttle.

Ronan, Colin A. 2006. The Shorter Science and Civilisation in China. Volume 5. Cambridge University Press. Cambridge. UK.

 

Elemen kritis bagi konservasi klenteng tua, makna kosmologi tradisional denah courtyard, si-he-yuan 四合院.

Sugiri  Kustedja[1], Antariksa Sudikno[2], Purnama Salura[3] .

Abstrak.

Sangat memprihatinkan bahwa beberapa bangunan heritage klenteng tua dengan denah khas arsitektur tradisional Tionghoa si-he-yuan 四合院telah dirubah total. Suatu benda  artefak sejarah budaya yang tidak ternilai telah musnah dan tidak mungkin dipulihkan kembali lagi. Tulisan singkat ini mencoba menguraikan makna simbolisme dan falsafah budaya yang tersirat pada elemen arsitektur khusus ini. Penelitian literature dilakukan berdasarkan hasil penelitian sosio-historis dan sejarah arsitektur, dilengkapi tulisan mengenai kepercayaan rakyat tradisional dan kosmologi Tionghoa purba. Dengan pengertian yang jelas mengenai nilai budaya dan falsafah dari artefak diharapakan agar mereka yang berkepentingan (stake holders) menyadari dan berhati-hati ketika bertindak pada benda-benda bersejarah berupa bangunan klenteng tua.

Kata kunci: sejarah arsitektur, tradisional,  konservasi, pelestarian,   si-he-yuan.

Abstracts.

There are several historical heritage Chinese temple buildings mistreated by their stake holders, due to the ignorant of their cultural meaning. This paper focusing on the temples with specific traditional plan layout called as si-he-yuan 四合院. It will give a short discussion of meanings and symbolism on the si-he-yuan plan. The research done through available literatures covering socio-histories, history of architectrure, folk-believes and early Chinese cosmology.  Hopefully a better understanding of its cultural philosophical meaning will prevent further destruction of any cultural heritage temples buildings. Which when wrongly handled will be a total lost, will never recoverable again.

Keywords: History of architecture, traditional, conservation, si-he-yuan.         

Pendahuluan.  

Dalam rangka melakukan penelitian arsitektur Tionghoa pada bangunan klenteng tua tradisional di pulau Jawa, penulis telah berkunjung[4] dan menemukan beberapa kasus gedung klenteng  tua yang merupakan heritage sejarah telah ditangani secara keliru. Unsur ketidak tahuan pengurus mengenai makna pesan budaya yang tersirat pada elemen arsitektur bangunan, agaknya merupakan penyebab utama perusakan fatal artefak tsb.

Diantara bangunan yang dimaksud adalah klenteng Hok Tek Bio, Fu De Miao福德廟 di Purwokerto (mungkin?) dan Klenteng Ban Sian Tong, Wan Shan Tang萬善堂, jl. Pagarsih, Bandung. Bangunan aslinya berdenah bentuk courtyard, si-he-yuan 四合院, telah dirubah total menjadi bentuk yang  sekedar suatu ruangan luas, gelap, tanpa penghawaan alami, rapat tertutup; menjadi serupa ruang aula gedung serba guna saja !!  Padahal jika diteliti mendalam bentuk denah aslinya sesungguhnya sarat dengan pesan budaya tradisional Tionghoa.

Paper ini akan menguraikan secara ringkas makna yang tersirat pada denah si-he-yuan tsb, agar jelas bahwa denah bangunan mutlak harus selalu dipertahankan pada pekerjaan konservasi dan preservasi bangunan serupa. Pengguna dan pemrakarsa bangunan mayoritas adalah para migrant yang berasal dari daerah Tiongkok Selatan; maka pembahasan  fokus mengacu pada unsur arsitektur Tiongkok Selatan.

         Denah dasar courtyard, si-he-yuan 四合院.

Pembahasan berangkat dari denah rumah sederhana 3 jian间 (ruang, rohang, bay) umumnya merupakan hunian rakyat jelata, jumlah bilangan selalu diambil ganjil agar simetris pada sumbu utama. Di Tiongkok utara  jian间 selebar 3.3 m-3.6 m; di Tiongkok selatan 3.6 m – 3.9 m. Kearah dalam jian 间di Tiongkok utara sekitar 4.8 m, di selatan sampai 6.6 m. Pada tahap pengembangan bangunan berikutnya modul jian间 awal tsb  akan berulang lagi.

Denah rumah sederhana type ini biasa disebut sebagai “ satu hall dua kamar” yi-tang-er-nei一堂二內, atau “satu terang dua gelap” yi-ming-liang-an 一明两暗. Dalam sejarah kekaisaran pernah ada peraturan yang melarang masyarakat umum membangun hunian lebih dari 3 jian.

Gambar 3.  Denah rumah  dasar  umum 3 jian间 (rohang,bay ) di Tiongkok utara. dinding belakang  tanpa jendela/bukaan. Umumnya kamar dilengkapi  ranjang bata, kang 炕  yang mendapatkan hawa panas dari tungku didapur sebelahnya. (Knapp, Ronald G.2006: 31).

Gambar 4. Denah rumah sederhana  umum 3 jian间.(rohang,bay ) di Tiongkok selatan, lebih memanjang  kearah  dalam. Dinding belakang berjendela/bukaan . (Knapp, Ronald G.2006: 31).

Gambar 5. Denah  courtyard  sedehana/awal.  1= pintu masuk,  2 = courtyard,  3 = ruang  leluhur.

Denah dasar pengembangan berikutnya berupa san heyuan 三合院 yang tidak mutlak mengharuskan orientasi utara-selatan, tetapi tetap dilengkapi dengan courtyard, tingyuan 庭院dan dinding penutup muka  tidak mutlak harus rapat.

Gambar 6.  Denah dasar   san-he-yuan 三合院.  1= pintu masuk,  2= courtyard,  3= ruang leluhur.

Gambar 7.  Rumah San-he-yuan三合院. Contoh diatas adalah rumah masa kecil Deng Siao-Ping.(Knapp, Ronald G. 2006:  240, 243).

Setelah kedua bentuk denah dasar diatas, perkembangan selanjutnya ialah  hunian agak besar  dan dianggap lengkap  dikenal bentuk si-he-yuan 四合院 dengan inner court, courtyard, ting-yuan 庭院didalam. Berupa  persil yang kempat sisinya dibatasi oleh bangunan dan dinding pembatas persil yang rapat.

Denahnya biasanya berorientasi sumbu simetris utara-selatan, serta muka bangunan dianjurkan agar menghadap keselatan untuk memperoleh panas dan sinar matahari maksimal, Dinding sisi utara yang rapat melindungi penghuni dari arus hawa dingin dan debu pasir yang bertiup dari arah ini. Suatu penyikapan tradisional bagi keadaan alam, juga memberikan privasi pada penghuninya, serta ventilasi dan pencahayaan. Dari segi keselamatan berupa juga bentuk pertahanan diri dari suasana keamanan yang belum sempurna. Bagi daerah Tiongkok Selatan skywell ini berukuran relative mengecil.

Gambar 8.  Pola pertumbuhan rumah awal 3 jian间 (rohang;bay ) sehingga membentuk denah tertutup si-he-yuan; untuk daerah Tiongkok utara dan selatan. Perhatikan proporsi bukaan tian-jing 天井yang kecil di selatan. (Knapp, Ronald G. 2006:25).

Gambar 9. Denah  dasar  si-he-yuan 四合院. 1 = pintu masuk, 2 = courtyard   ting-yuan庭院, 3 = ruang leluhur.

Jumlah courtyardting-yuan庭院di tengah hunian ini, akibat perluasan memanjang; akan menunjukan tingkat status sosial pemiliknya. Maksimum yang pernah dibangun sampai 5 buah ting-yuan memanjang dalam satu persil. Umumnya hanya sampai 3 buah ting-yuan ke arah memanjang. Bentuk denah dasar ini dipakai juga didaerah Tiongkok selatan.

  Fungsi ruangan dalam bangunan tradisional Tionghoa si-he-yuan 四合院.          

Diawali dengan bentuk “satu hall dua kamar”, yi-tang-er-nei一堂二內 pada susunan ruang tradisional ruang hall tengah ini selalu khusus diperuntukan sebagai ruang abu, ruang leluhur. Tempat menyimpan meja abu leluhur, ruang kumpul keluarga, atau juga ruang makan. Fungsi ruang leluhur ini akan terus dipertahankan ketika denah berubah menjadi bangunan lebih luas, konsisten merupakan titik fokal.

“Ruang leluhur” biasa disebut sebagai “ruang cahaya, ming-jien 明间”.  Ruang kamar di sampingnya dinamai “ruang berikut, ci-jian 次間”, ruang berikutnya disebut “ruang ujung, shao-jian 稍间”, bila ada ruang terakhir di kedua ujung disebut “ruang kuping, erh-jian 耳间” lebar ruang terakhir ini akan terkecil bila dibandingkan dengan lebar ruang yang lain-lainnya.

Blok bangunan utama berupa deretan  ruang dengan ruang leluhur disebut shang-fang 上房, terletak di bagian terdalam dari denah si-he-yuan. Blok bangunan deretan ruang di sisi paling depan si-he-yuan dinamai “ blok bangunan lawan, tao-zuo 倒座”.  Di bagian tengah dinding muka unit si-he-yuan ini terdapat pintu masuk utama da-men 大门. Blok bangunan samping di sisi lain disebut bangunan keliling  xiang-fang 廂房 atau tembok keliling; wei-qiang 围墙. Bidang tanah ditengah; courtyard disebut zhong-ting 中庭.

Denah dasar si-he-yuan tanpa blok deretan bangunan muka tao-zuo 倒座 disebut san-he-yuan 三合院.

Bangunan inti shang-fang 上房 menjadi bagian terpenting dalam denah si-he-yuan sebab disini terdapat ruang leluhur. Ruang leluhur ini digunakan bagi beragam kegiatan; merupakan titik fokal seluruh orientasi bangunan.

a.)    Tempat menaruh meja abu leluhur, tempat upacara ritual penghormatan sesuai kalender acara tahunan.

b.)    Tempat berlangsungnya upacara penting keluarga, pernikahan, kematian,

c.)    Ruang penerimaan tamu dan keluarga, syarat utama yang boleh masuk kedalam sini khusus bagi mereka yang dianggap keluarga atau anggota kerabat keluarga dekat.

d.)    Merupakan ruang yang dibangun dengan bahan terbaik, ornamen terindah, tempat mengantungkan kaligrafi, lukisan.

e.)    Pada bangunan  shang-fang merupakan tempat tinggal anggota keluarga paling tua, senior yang paling di hormati dalam hirarki keluarga.

f.)     Atap , wuwungan dan ketinggian lantai shang-fang merupakan yang tertinggi diantara semua bangunan dalam lingkungan si-he-yuan tersebut. Melambangkan hirarki order  tertinggi  shang-fang terhadap bangunan lain di sekelilingnya.

Bangunan samping xiang-fang 廂房 akan menentukan ukuran panjang sisi persil si-he yuan.  Susunan ruang pada  xiang-fang juga mengikuti urutan seperti pada shang-fang 上房, hanya di sini ruang leluhur berubah peruntukan menjadi ruang serba guna, diantaranya tempat menerima tamu bukan keluarga.

Terdapat 2 jenis hubungan pertemuan antara  shang-fang 上房 dan xiang-fang 廂房 :     a.) terpisah, dan  b.) menempel; satu ruangan memiliki dinding bersama,  serta koridor yang menerus.

Gambar 11. Denah si-he-yuan dengan alur koridor shang-fang 上房 dan  xiang-fang 廂房yang tersambung.

1 = pintu masuk, 2 = ting-yuan庭院, zhong-ting 中庭,  3 = ruang leluhur.

          Bangunan batas muka tao-zuo 倒座, harafiah berarti bangunan lawan. Merupakan blok bangunan dengan deretan ruang di sisi paling depan persil si-he-yuan. Dianggap sebagai penyeimbang dari unit bangunan terdalam  shang-fang 上房. Di bagian tengah unit bangunan muka terletak pintu entrance utama da-men 大门, sedang pada kedua sisinya terdapat ruang bagi karyawan, penjaga pintu, pembantu, atau gudang. Daerah bangunan dimuka ini merupakan daerah service, serta orang luar masih diijinkan untuk masuk. Tamu yang berkunjung dapat menunggu di sini sebelum diijinkan masuk lebih dalam. Pedagang keliling bila diijinkan dapat masuk untuk mengelar dagangannya.

Pintu masuk utama da-men 大门  terletak di tengah bangunan tao-zuo 倒座, di bagian muka persil  si-he-yuan. Pada pintu da-men ini kadang diletakan tembok penghalang “tembok bayangan;ying-bi 影壁” sehingga pihak di luar tembok terhalang melihat langsung kedalam kearah courtyard; zhong-ting 中庭. Ada juga yang membangun 2 lapis tembok penghalang rangkap; satu tembok di sebelah luar pintu: tembok pemantul;zhao-bi照壁atau tembok bayangan; ying-bi 影壁dan satu di sebelah dalam pintu:tabir/ tirai angin; ping-feng 屏風, atau pintu tombak;  jian-men劍門.

Dahulu pada tembok sebelah luar ini merupakan tempat tandu (joli) orang menunggu; juga berfungsi untuk tempat menambatkan kuda tunggangan. Dari segi kepercayaan rakyat tembok ini merupakan penghalang agar roh-roh jahat tidak dapat masuk ke dalam persil si-he-yuan, sebab roh jahat ini dipercaya hanya mampu berjalan lurus dan tidak dapat berbelok. Dari segi pengamanan ruang celah sempit dipintu masuk yang lebar membatasi orang hanya dapat masuk satu per satu sehingga mempermudah pengawasan..

Zhong-ting 中庭; ting-yuan 庭院; courtyard, merupakan “jiwa” dari denah si-he-yuan ini. Zhong-ting memiliki multi fungsi dalam kehidupan keluarga penghuni.

  1. Ketika upacara ritual keluarga, umat pertama kali bersembahyang kearah langit dan bumi; keduanya melambangkan alam semesta, menghadap ke ruang terbuka zhong-ting ini. Baru kemudian ritual selanjutnya menghadap ke arah meja abu keluarga leluhur.
  2. Seluruh jendela dan pintu ruangan sekeliling bangunan bila terbuka akan menghadap pada bidang  zhong-ting 中庭.
  3. Penerangan dan penghawaan ruangan sekelilingnya mengandalkan cahaya dan aliran udara dari bidang ini.
  4. Tempat menampung air hujan dari sebagian atap dan bukaan sumur langit, tian-jing 天井.
  5. Tempat bermain bagi anak-anak dan bercengkrema diantara anggota keluarga penghuni.
  6. Kadang ditempatkan tanaman hias dan tumbuhan lain dalam pot di sekelilingnya.
  7. Merupakan daerah simpul pergerakan penghuni ke semua arah bagian bangunan.
  8. Merupakan tempat mengerjakan tugas ibu rumah tangga, mencuci, menjemur sambil mengawasi anak-anak belia.

Tembok batas keliling, wei-qiang圍牆, merupakan salah satu ciri dari denah si-he-yuan: tembok menunjukan dan membatasi dengan tegas lingkungan ruang privat keluarga yang tertutup, dipisahkan dengan ruang di luar yang dianggap ruang umum yang tidak teratur (chaos). Tembok pembatas ini juga dimaksudkan bahwa ruang di dalamnya di pisahkan dan disimbolkan sebagai copy alam semesta yang teratur (faham kosmologi makro-kosmos) menjadi suatu mikro-kosmos yang dapat diatur dan ditata dengan tertib.

Daerah dianggap telah dikuasai mutlak (territory), ruang dalam bangunan ini pada awal membangun telah melewati berbagai upacara ritual dibersihkan / disucikan (selamatan) agar baik untuk hunian. Juga ketika saat membangun hunian dilakukan lagi upacara ritual kepercayaan rakyat pada tahap-tahap penting: mengawali pembuatan pondasi, menegakkan kolom tiang, memasang gording terakhir atap pada wuwungan, dan memasang kosen pintu masuk utama (entrance).

Setelah bangunan rampung, dalam satu ruang khusus berupa bagian dari ruang bangunan yang dibatasi tembok persil ini secara tetap akan diselengarakan upacara ritual penghormatan leluhur.  Sebagai bagian dari paham kosmologi tradisional adanya kelanjutan hidup setelah kematian.

Fungsi nyata lainnya; tembok keliling juga merupakan sarana pertahanan bagi keamanan penghuni di dalamnya, melindungi harta dan jiwa penghuni dari yang berniat buruk. Pada masa tradisional kerajaan tidak dapat melindungi warganya secara teratur di tempat yang jauh dari kota pusat kerajaan. Masyarakat diharuskan dapat mempertahankan diri secara swakarsa.

Perluasan unit si-he-yuan.

Unit modul si-he-yuan 四合院; terdiri dari 4 bangunan persegi panjang yang membentuk segi empat dengan courtyard ditengah disebut jin 進 harafiah berarti “masuk”, berupa besaran sumbu jarak di awali dari pintu masuk utama dimuka, melewati zhong-ting 中庭, hingga titik terdalam ruang leluhur.

Perluasan ke arah memanjang pada persil si-he-yuan akan merupakan pengulangan modul jin 進ini, pengulangan akan menghasilkan zhong-ting 中庭 jamak. Sehingga jarak dari pintu da-men 大门 hingga bagian terdalam ruang leluhur bertambah panjang. Setelah pengulangan perluasan berlangsung bebrapa kali; akan mengakibatkan jarak tempuh keluar masuk menjadi sangat jauh, sepanjang sumbu as utama persil.

Hal ini bagi keluarga petani akan sangat merepotkan dan mengotori hunian; ketika ia harus mengangkut alat-alat bertani setiap pagi hari dan sore. Dengan demikian perluasan memanjang pada si-he-yuan hanya cocok bagi keluarga pedagang atau pejabat.

Pada bangunan berdenah si-he-yuan memanjang demikian terlihat beberapa hal.

1)      Sirkulasi pergerakan penghuni sepanjang koridor, sejajar  dengan sumbu utama simetris; melewati tepi zhong-ting. Atau mengikuti garis sumbu utama melewati zhong-ting dan ruang terbuka yang dapat dilewati/ tembus.

2)      Tinggi atap, wuwungan atap dan lantai bangunan secara gradual akan meninggi, dengan makin kedalamnya letak bangunan. Hirarki order keluarga konsisten dipertahankan.

3)      Garis virtual sumbu simetri persil si-he-yuan selalu tegas dipertahankan.

4)      Dari penelitian persil si-he-yuan memanjang maksimum hingga 5 chin, umumnya hanya sampai 3 chin.

Gambar 12. Denah perluasan memanjang sebanyak 3 chin,  1 = pintu masuk, 2 = zhong-ting 中庭,  3 = ruang leluhur,  11 = tian-jing 天井. ( Liu Tun Chen,  1957: 85)

Perluasan ke arah melebar. Bagi keluarga petani lebih leluasa bila dilakukan jenis perluasan ke samping, yang akan dilengkapi dengan pintu masuk tambahan di samping pintu utama. Sehingga jarak tempuh dari pintu masuk ke ruang terdalam tidak berlebihan.

Bangunan samping demikian disebut sebagai bangunan “naga pelindung; hu-long 護龍” Pada bentuk bangunan naga pelindung hu-long 護龍ketinggian atap, dan wuwungan harus lebih rendah dari pada ketinggian bangunan utama shang-fang 上房; serta bangunan lainnya dari unit inti si-he-yuan yang sudah ada. Bangunan tambahan terluar akan dihuni oleh keluarga yang lebih muda pada hirarki kekerabatan keluarga.

Courtyard zhong-ting 中庭 yang terletak antara bangunan  hu-long dan unit si-he-yuan induk disebut sebagai “sumur naga long-jing 龍井“ dan “sumur matahari ri-jing 日 井. Sebutan ini bila zhong-ting terletak di kanan  si-he-yuan induk (dilihat dari muka bangunan) . Bila terletak di kiri bangunan si-he-yuan-induk dinamai “sumur harimau hu-jing 虎井” dan “sumur bulan yue-jing 月井”. Dari kedua courtyard samping ini terdapat masing-masing pintu tambahan keluar di bagian muka dan belakang bangunan.

Gambar 13.   Denah si-he-yuan dengan perluasan ke samping. 1 = pintu masuk, 2 = courtyard, 3 = ruang leluhur, 4 = sumur matahari ri-jing 日 井, 5 = sumur naga long-jing 龍井, 6 = sumur bulan yue-jing 月井, 7 = sumur harimau  hu-jing 虎井.

Gambar 14  .   Rumah Si-he-yuan四合院.  Dengan perluasan ke samping. Satu variant. (Knapp,  Ronald G. 2000:25).

Pada bangunan jenis si-he-yuan melebar terlihat beberapa hal.

1)      Pada bangunan di daerah Tiongkok selatan lebar koridor dan atapnya lebih lebar dari pada di daerah Tiongkok utara. Ini bertujuan agar menghindari terik matahari yang langsung kedalam ruangan.

2)      Sumbu utama simetris persil induk si-he-yuan konsisten dipertahankan. Bangunan samping selalu diusahakan untuk dibangun dengan denah berbentuk cerminan pada kedua sisi samping.

3)      Wuwungan, atap bangunan samping bila menjauh dari sumbu utama simetris persil induk akan makin rendah. Sehingga pada bangunan inti shang-fang tetap merupakan  yang tertinggi / dominan dalam seluruh kompleks banguan baru.

Pada keluarga petani yang sangat besar; dengan banyak keluarga kerabat bersaudara tinggal bersama, ada juga perluasan yang merupakan gabungan kearah memanjang dan melebar.

Bentuk denah san-he-yuan  akan lebih cocok bagi keluarga besar petani. Bentuk ini mempunyai tanah lapang courtyard yang luas ditengahnya. Sehingga dapat dimanfaatkan untuk menjemur hasil bumi pertanian. Pemindahan alat-alat bertani pun lebih leluasa; tanpa harus melewati berbagai hambatan dan mengotori bagian dalam hunian.

Zoning pada bangunan tradisional si-he-yuan.

Pembagian peruntukan daerah hunian bagi keluarga tradisional sangat tegas diberlakukan. Peruntukan daerah dalam persil si-he-yuan bagi kegiatan penghuni ditata sesuai dengan falsafah Konfusius mengenai hirarki kekeluargaan. Zoning peruntukan ini sangat nyata terutama pada persil si-he-yuan yang cukup luas, terutama bila memiliki denah bangunan cukup memanjang kedalam mau pun melebar ke samping.

Peruntukan dilakukan berurutan  berdasarkan social rangking , dimulai dengan bagian muka sebagai daerah publik, kemudian daerah peralihan setengah privat, dan terakhir daerah privat total di bangunan terdalam. Secara rangking kerabat kekeluargaan zoning ditata berurutan daerah servis (bagi pembantu dan karyawan)di bagian paling muka, lalu daerah keluarga muda, kemudian daerah anggota keluarga yang belum menikah yang terbagi lagi dengan daerah anak perempuan serta anak laki-laki, dan terakhir daerah orang tua, keluarga tertua yang menghuni persil si-he-yuan tsb.

Batasan antara daerah zoning ditandai secara beragam. Bentuk pembatas yang  tegas berupa tembok pembatas dan pintu gerbang  untuk masuk beralih pada tiap daerah. Bentuk batas peruntukan imajiner dengan ruang terbuka dibatasi oleh petak zhong-ting 中庭 ( pada courtyard jamak). Pada pembatas berbentuk zhong-ting中庭dapat juga dilokasi courtyard ditambah unit bangunan melintang/melebar mirip bangunan utama shang-fang 上房 tetapi ruang leluhur berubah menjadi ruang serba guna yang dilengkapi pintu tembus.

Patut diingat bahwa pembagian zoning yang sangat tegas ini berlaku pada masa tradisional sampai sebelum tahun 1911. Situasi sekarang sudah jauh berbeda, banyak persil bersejarah si-he-yuan di Tiongkok telah dihuni oleh keluarga-keluarga yang tidak  berhubungan kerabat, banyak juga bangunan yang sebagian besar kosong terbengkalai.

Pada masa tradisional hunian ditata, dengan maksud agar dapat terkumpul suatu keluarga besar berkerabat sangat erat; berhubung dengan sistim masyarakat agraris tradisional yang memerlukan jumlah besar tenaga kerja manusia bagi penggarapan sawah ladang. Makin luas kekayaan keluarga makin banyak tenaga penggarap diperlukan.

Hal mendetail ini dibahas secara singkat dalam tulisan ini sebab objek penelitian bangunan klenteng tua telah dibangun pada periode yang sama, dalam nuansa dan kebiasaan masyarakat tradisional di tempat asalnya Tiongkok Selatan pada masa klenteng tua di Jawa Barat ini dibangun.

Gambar 15. Denah  si-he-yuan 四合院 bangunan  utama  klenteng  Hiap-Thian-Kiong di  Bandung.  Perhatikan  2 (dua) kotak tian-jing  samping telah berubah  fungsi menjadi bangunan tambahan baru.

Gambar 16. Denah si-he-yuan 四合院  bangunan  utama,  perhatikan   2 buah courtyard samping  telah ditutup atap dan  lantai disatukan !  Klenteng  Hok Tek Bio,   Bogor.

  Kosmologi  hunian tradisional Tionghoa si-he-yuan四合院.

Falsafah kosmologi Tionghoa sangat beragam (uraian  mendetail tentang hal ini tidak termasuk cakupan tulisan singkat ini) pada segi praksis diterapkan dalam hidup keseharian anggota masyarakat tradisional dalam berbagai bentuk simbol dan kepercayaan populer masyarakat. Dalam ujud bangunan diekspresikan dalam bentuk  hunian berarsitektur tradisional Tionghoa.

Para peneliti arkeologi Tiongkok purba telah menemukan beberaopa situs dan artefak hunian masyarakat prasejarah yang menggambarkan berbagai perkembangan bentuk hunian purba sejalan dengan perkembangan budaya pada masanya.

Peneliti Yang Hung-Hsun dalam tulisannya Development of architecture in early China, 1980. Memperkirakan pada tahap awalnya hunian manusia purba di Tiongkok berada di gua-gua pada  tebing perbukitan, kemudian beralih pada hunian di bawah permukaan tanah berupa lubang hasil galian. Pada kedua bentuk hunian awal ini senantiasa tersedia lubang tempat asap keluar ke langit.

Tahap berikutnya hunian mulai muncul diatas muka bumi dengan sebagian masih dalam galian di bawah permukaan tanah.  Selanjutnya ruang hunian bergeser lebih ke atas sehingga seluruhnya berada di atas permukaan bumi. Pada kedua tahap terakhir ini sudah mulai dibangun atap berbentuk lingkaran untuk melindungi  hunian di bawahnya. Pada puncak atap hunian tetap disediakan lubang bukaan untuk jalan keluarnya asap, agar memungkinkan menghidupkan api di dalamnya.

Api digunakan untuk memasak keperluan penghuni dan juga untuk membakar persembahan kurban bagi yang dianggap berkuasa pada alam sekitar. Lubang atap juga berfungsi untuk perhawaan (ventilasi) dan penerangan di ruang dalam hunian.

Dari situs artefak purba di temukan juga banyak bekas hunian berbentuk lingkaran mengelilingi secara konsentris sebuah rumah besar di tengah-tengah nya. Agaknya di rumah besar ini dihuni oleh kepala suku yang menjadi pimpinan kelompok. Bahan dan konstruksi tampaknya lebih rumit dibandingkan  hunian berbentuk bulat sekelilingnya.

Gambar 17.  Perkiraan  hunian  purba awal; didalam gua. ( Chang, SSH. 1986:135)

Gambar 18. Perkiraan  perkembangan, seluruh hunian dalam  lubang  galian di bawah permukaan tanah. ( Chang, SSH. 1986:135)

Gambar 19.  Tahap berikut, hunian  sebagian  saja dalam galian, sebagian  diatas  permukaan  tanah. ( Chang, SSH. 1986:135)

Gambar 20. Hunian  seluruhnya di atas  permukaan  tanah. Pada seluruh  tahap  hunian  selalu  tersedia  lubang pembuangan  asap. ( Chang, SSH. 1986:135)

Gambar 21.  Rekonstruksi  rumah  bulat, berdasarkan artefak  yang telah ditemukan. Perhatikan lubang

perhawaan  dipuncak atap  hunian. . ( Chang, SSH. 1986:138)

Pembangunan rumah besar juga melalui bermacam upacara, hal ini terlihat dengan ditemukan di sekitar situs tulang-tulang rangka hewan korban; kadang juga ditemukan rangka manusia korban. Pada permukaan tanah di tengah ruangan rumah besar ini juga dibuat lubang perapian tempat untuk memasak dan tempat bakaran kurban bagi yang di anggap berkuasa pada alam dan memiliki kemampuan menentukan kehidupan suku. Upacara  ritual ini dilakukan oleh kepala suku yang merangkap juga sebagai orang yang mampu berhubungan dengan para tokoh penguasa alam. Dengan demikian rumah besar telah berfungsi rangkap sebagai hunian kepala suku, simbol pusat orientasi warga suku dan juga tempat upacara ritual.

Pada tahap selanjutnya mungkin para suku yang berdekatan bersatu karena kekrabatan dari pernikahan atau pun tindakan militer, kelompok ini jadi membesar sehingga tempat upacara ritual bersama beralih ke ruang terbuka.

Tempat upacara ini dari temuan artefak ditandai dengan daerah yang ditinggikan dari lingkungan sekitarnya merupakan platform; podium dari tanah. Ditempatkan juga patung dari tokoh penguasa alam sekitar atau benda lainnya yang di hormati, untuk menyenangkan tokoh ini dihadapannya diadakan ritual serta bakaran persembahan kurban berupa hewan atau pun manusia. Pesan dan harapan manusia di lambangkan terkirim dalam simbol asap yang mencuat ke langit mencapai tokoh yang dituju.

 

Gambar 22.  Rekonstruksi perkiraan rumah besar kepala suku, berbentuk segi empat. ( Chang, SSH. 1986:136)

Kemudian pada tahap para kelompok suku yang telah membesar melanjutkan  usaha penyatuan yang lebih meluas baik berbentuk persekutuan maupun penaklukan oleh kekuatan militer, mulailah terbentuk negara kerajaan-kerajaan. Menurut perkiraan sejarahwan periode ini adalah pada masa 3 dinasti : Xia夏, Shang商, Zhou周. Pada naskah kuno ada sebutan bahwa pada masa dinasti Xia 夏 (2205-1766 BCE) disebut sebagai masa dengan 10,000 kerajaan, masa dinasti Shang 商 (1766-1122 BCE) dengan 3,000 kerajaan, dan dinasti Zhou 周( 1122-256 BCE) dengan sekitar 1,000 kerajaan.

Dalam proses konsolidasi ini mulai ditata sistim dinasti kerajaan serta pengaturan susunan masyarakat secara feudal. Terbentuk kelompok penguasa kerajaan, para pemilik budak, dan kelompok budak atau pun rakyat jelata. Dalam hal kepercayaan masyarakat  mulai disatukan untuk mengikuti kepercayaan penguasa.

Awalnya upacara ritual untuk menghormati alam dilakukan pada daerah eksklusif yang khusus hanya boleh dimasuki oleh kepala suku dinamai she-ji社稷 berupa ritual pada penguasa bumi.  Kemudian setelah masa kerajaan mulai diadakan kuil/klenteng leluhur (ancestor temple) zong-miao 宗廟untuk menghormati para pendiri kerajaan/dinasti, disampingnya tetap juga menghormati para penguasa alam semesta. Mereka semua dianggap berkuasa dapat mengatur cuaca dan iklim alam agar menghasilkan panen yang baik, dapat membantu dalam peperangan mengalahkan musuh, juga mampu mengawasi kelakuan penguasa; ketika bertindak sewenang-wenang dalam pemerintahan; alam semesta akan murka dan datanglah bencana alam, banjir, wabah, kekeringan, dsb.

Untuk berhubungan dan mengekspresikan pernyataan syukur untuk panen yang baik, terima kasih untuk suatu keberhasilan, suatu pengharapan atau membujuk para tokoh ini diaturlah acara ritual kepercayaan secara cermat dan rumit. Terdapat beberapa upacara ritual yang khusus hanya boleh dilakukan oleh penguasa, raja atau kaisar, orang kebanyakan dilarang keras untuk melakukannya. Hanya kaisar sebagai putra langit yang dapat dan boleh berhubungan dengan penguasa langit tertinggi.

Sedangkan ritual untuk keluarga sendiri dapat diselengarakan di rumah hunian, maka disediakan “ruang leluhur” zheng-ting 正廳untuk menghormati leluhur keluarga dan pada alam semesta. Sedangkan ritual yang bersifat umum dilakukan di klenteng umum bersama-sama. Pemanfaatan hunian sebagai tempat tinggal dan juga tempat ritual ini merupakan salah satu alasan bahwa ruang leluhur merupakan titik pusat kehidupan keluarga dan titik orientasi perancangan denah bangunan hunian.

Bagi  upacara ritual menghormati alam semesta yaitu langit dan bumi membutuhkan ruang terbuka di dalam hunian, maka diadakan bukaan pada atap berupa: sumur langit; tian-jing 天井dan courtyard; zhong-ting中庭 pada denah unit si-he-yuan 四合院.

Dari segi analisa sejarah arsitektur secara etimologi; melalui analisa penamaan elemen lubang pada atap  hunian masa prasejarah menyebabkan terjadinya tetesan air hujan yang masuk ke dalam hunian, keadaan ini dinamai zhong-liu 中霤arti harafiah “tetesan air di pusat”. Ketika bentuk hunian menjadi lebih baku dalam bentuk denah segi empat si-he-yuan 四合院 bagi tempat bukaan ini muncul istilah yan-liu檐霤 arti harafiah “tetesan air dari tepi atap”, air dari empat sisi atap keliling akan terkumpul pada petak zhong-ting 中庭; courtyard yang terletak dibawah sumur langit; tian-jing 天井 . Istilah zhong-liu 中霤 dahulu kala juga dipakai untuk penamaan lubang galian di tanah tempat menyalakan api untuk bakaran kurban bagi penguasa bumi.

Makro-kosmos dan mikro-kosmos hunian.

Pada artefak hunian purba telah ditemukan banyak tulang belulang dari hewan  kurban, kadang juga berbarengan dengan tulang rangka manusia. Artefak  kurban ini ditemukan terutama pada sisi selatan bangunan asal. Catatan pada naskah kuno menceritakan tahapan pelaksanaan ritual ketika membangun. Awal sekali ketika membersihkan lahan, lalu ketika mulai memasang fondasi, terakhir saat pemasangan pintu masuk utama. Kemudian hari pada masa kebudayaan setelahnya juga pada saat menaikan gording wuwungan terakhir pada bangunan.

Hewan kurban berupa hewan ternak sapi; kambing, dan hewan peliharaan anjing. Ditemukan juga  kurban manusia; mereka berpakaian tentara lengkap dengan senjata, tameng, panah dan busurnya. Mereka dikuburkan dengan berlutut pada kedua sisi pintu masuk. Bentuk ini pada perkembangan budaya  dikemudian hari beralih menjadi patung-patung penjaga pintu masuk, berupa patung singa atau perwira langit. Agaknya makin tinggi posisi pemilik bangunan dalam hirarki masyarakat makin banyak kurban yang ditemukan. Upacara merupakan harapan kemakmuran dan keamanan bagi para penghuni bangunan kemudian hari.

Dalam mitologi kosmogoni Tionghoa kuno selalu diceritakan adanya peran serta tokoh manusia simbolis dalam proses terbentuknya alam semesta (anthropomorphic). Selalu dikisahkan awal alam yang kacau-balau tidak berbentuk menjadi tertib teratur, semuanya merupakan hasil karya pertolongan tokoh-tokoh simbolis tsb.  Urutan hal yang sama juga tercerminkan pada upacara ritual dalam proses pembangunan ini.

Pada awal sekali bila membangun akan di cari nasehat, prediksi, persetujuan dari penguasa alam semesta mengenai lokasi yang paling baik bagi pembangunan objek yang direncanakan. Mirip dengan peramalan, dilakukan dengan menafsirkan retakan pada media kulit batok kura-kura, atau tulang belikat hewan yang dibakar dengan logam panas. Proses ini merupakan usaha untuk mengambil pilihan diantara banyak kemungkinan yang semuanya  penuh dengan ketidak pastian. Pada lokasi yang terpilih dilakukan upacara ritual, setelahnya dimulai proses pembersihan lahan menjadi siap bangun.  Ritual ini menggambarkan daerah sebagian dari alam yang telah di”bersihkan“, dibatasi dari alam semesta yang masih tidak beraturan “chaos”, sebagai simbol mulai disiapkan bagian yang akan ditata, dibereskan dengan tertib.

Selama proses pembangunan berulang kali pada tahapan tertentu; yang dianggap kritis dan penting diselengarakan upacara ritual. Pertama saat fondasi mulai dipasang, dan terakhir saat pintu masuk utama dipasangkan. Ritual yang berulang kali bertahap-tahap ini menggambarkan betapa sungguh-sungguh dan seriusnya masyarakat kuno tradisional Tionghoa menghargai suatu bangunan hunian. Mereka berusaha dengan berbagai simbol untuk meng”suci”kan bangunan, tempat kemudian hari akan dihuni oleh seluruh keluarganya. Mereka berharap kelancaran selama masa pembangunan , kemudian keselamatan, rejeki dan kebahagian selama tinggal di bangunan itu. Dengan berusaha membangun mikro-kosmos bangunan yang selaras dengan alam semesta yang lebih besar makro-kosmos.

Pada periode budaya selanjutnya proses pemilihan situs ini dilakukan dengan menggunakan kepercayaan popular yang disebut yang-zhai陽宅, atau feng-shui風水. Sedangkan tahapan upacara ritual dilakukan saat memulai pemasangan pondasi, pendirian kolom-kolom dan terakhir ketika menaikan balok gording wuwungan atap. Sedangkan kurban digantikan dengan  bahan-bahan makanan sebagai simbol kemakmuran.

Dalam paham kosmologi kuno ruang angkasa tian 天alam semesta dibagi dalam 4 bagian ruang langit sesuai 4 arah mata angin, masing-masing daerah dikuasai oleh satu hewan simbolis yang terdiri dari 7 rasi bintang.

Langit tian 天sendiri dianggap memiliki sumbu pusat pada bintang utara yang menetap sedangkan benda langit lainnya bergerak disekeliling sumbu langit ini. Sumbu langit ini akan berhubungan pada bumi di 地 di titik simbol yang dianggap sebagai sumbu bumi cosmic axis. Sedangkan manusia ren 人 yang menghuni bumi merupakan penghubung keduanya langit dan bumi. Konsep ini disebut sebagai falsafah tian-di-ren 天地人; langit-bumi-manusia.

Falsafah ini ditransformasi pada bentuk hunian sebagai unit berdenah si-he-yuan 四合院.  Sumbu langit diproyeksikan sebagai sumbu utama simetris denah bangunan, dengan arah sumbu utama tepat utara-selatan merupakan garis simbol menghubungi titik bintang utara,  dan titik simbul pusat bumi axis-mundi ; merupakan ujung lain dari sumbu langit yang berawal dari bumi.  Titik axis-mundi ini diproyeksikan pada lambang bagian bukaan atap  yan-liu檐霤 arti harafiah “tetesan air dari tepi atap”, atau sumur langit; tian-jing 天井 dan dengan courtyard; zhong-ting 中庭 dipermukaan bumi. Sedangkan pembagian ruang langit menurut 4 mata angin ditransformasikan dalam bentuk denah segi-empat dengan keempat sisinya mengarah tepat pada 4 mata angin.

Dengan seluruh simbolisme demikian dibayangkan suatu mikrokosmos yang merupakan proyeksi makrokosmos dalam dimensi terjangkau dalam bentuk hunian manusia yang selaras, harmonis dengan alam semesta. Sehingga hunian akan mendapat daya qi 气semesta alam yang mendukung kehidupan penghuni bangunan.

Kosmologi dan platform bangunan.

Salah satu ciri yang penting dari bangunan tradisional Tionghoa adalah bangunan diletakan pada podium dari tanah yang permukaannya lebih tinggi dari pada muka tanah asal di sekelilingnya. Podium tanah merupakan lapisan-lapisan tanah bercampur kerikil dan tembikar yang di padatkan, dibatasi oleh dinding batu di sekelilingnya. Diatas permukaan tanah inilah didirikan kolom-kolom bangunan tradisional, pada bagian bawah kolom bangunan tradisional biasanya  tidak memiliki pasangan pondasi di bawahnya. Kaki kolom konstruksi kayu hanya diletakan dalam sepatu kolom dari batu yang dibentuk rupa-rupa.

Para ahli memperkirakan pada masa prasejarah penghormatan leluhur dan alam semesta dilaksanakan pada tanah lapang san. Ketika anggota  suku bertambah  upacara ritual tidak mungkin diikuti oleh semua yang berkumpul. Lalu dibangunlah podium dari tanah agar upacara dapat terlihat oleh seluruh anggota suku dan dinamai tan壇. Pada podium ini difungsikan ruang  she-ji社稷  sebagai ruang eksklusif ritual penghormatan pada alam semesta. Posisi dan konstruksi podium dengan ketinggian ini lalu diasosiasikan dengan kesucian, kekuasaan, dan merupakan objek yang dihormati oleh masyarakat.

Tahap berikutnya ketika kepala suku ingin menekankan status diri yang berkuasa dan memiliki wibawa bagi anggota suku, ia  membangun hunian diatas podium ini. Kebiasaan ini hingga sekarang diikuti oleh masyarakat umum; dan khusus untuk bangunan istana diletakkan pada podium yang sangat tinggi. Terlihat pada Kota Terlarang di Beijing podium untuk bangunan istana terdiri dari 3 tingkat. Dari segi lain untuk pertahanan podium istana yang tinggi membantu penjaga memantau jarak yang lebih jauh, dan mempersulit pihak penyerbu mencapai istana.

Pada  podium purba ini diletakanlah benda-benda yang dihormati, berbentuk patung atau pun benda lainnya.  Untuk melindungi tempat benda-benda ini ditanamlah pohon-pohon keliling diatas podium, lalu pada batang pohon ini diperkirakan dilukiskan totem lambang dari masing-masing suku.

Kemudian hari ketika teknik membangun telah mencapai tahapan kemampuan yang lebih rumit batang-batang pohon di gantikan oleh kolom-kolom kayu pada bangunan tradisional. Serta kebiasaan lukisan totem pada batang pohon berubah menjadi rupa permukaan kolom-kolom kayu pada bangunan klenteng yang penuh dengan hiasan hewan kepercayaan.  Sedangkan bentuk cabang-cabang pohon berubah manjadi susunan konstruksi dou-gong 斗拱 pada konstruksi bangunan tradisional.

Klenteng tua berdenah si-he-yuan.

Pada budaya Tionghoa susunan ruang bangunan klenteng tidak dibedakan dengan susunan organisasi denah ruang  bangunan hunian. Bangunan klenteng dan hunian dapat saling dipertukarkan. Sering  terjadi bangunan yang awalnya berupa hunian kemudian hari digunakan sebagai tempat ibadat.

Hal ini tersirat juga dari sifat hunian tradisional selalu memiliki dwi fungsi, sebagai tempat tinggal keluarga yang masih hidup dan juga merangkap tempat ritual keluarga, menghormati leluhur yang telah meninggal. Dalam konsep kepercayaan rakyat; sebagian roh orang yang meninggal terlekat pada papan nama yang dihormati pada acara ritual keluarga ini. Sehingga menjadi hal yang mudah bila hunian dapat langsung diubah menjadi tempat ibadat, susunan ruang tetap sama serupa. Ruang leluhur untuk ritual sebagai ruang utama selalu terdapat  pada tiap hunian tradisional.

Menurut catatan sejarah; pembangunan istana dan klenteng di Tiongkok dahulu  juga serupa. Sebab adanya angapan seorang raja adalah putera langit yang dipercayai memiliki daya adikodrati, demikian juga tokoh  yang dipuja didalam klenteng sebagai dewa memiliki kemampuan yang serupa.  Maka bentuk hunian yang sama sebangun dapat memiliki 2 macam fungsi tersebut.

Sering terjadi bila seorang raja telah memiliki kediaman yang baru, maka istana yang lama berubah fungsi digunakan menjadi klenteng. Kadang juga terjadi rumah seorang hartawan atau pejabat tinggi yang diserahkan untuk digunakan sebagai klenteng. Tidak ada perbedaan mendasar pada denah dasar antara rumah hunian dan bangunan klenteng.

Suatu catatan mengenai klenteng berdenah si-he-yuan di pulau Jawa. Tembok-tembok penyekat ruang pada seluruh unit bangunan dihapus: pada kedua unit sisi xiang-fang 廂房, unit muka tao-zuo 倒座 dengan pintu da-men大门, dan unit bangunan dalam shang-fang 上房 tempat “ruang leluhur zheng-ting 正廳”. Tertinggal koridor yang menyatu dengan ruang luas tanpa sekat mengelililingi courtyard tengah zhong-ting中庭; ting-yuan 庭院.

Ruang shang-fang 上房 ditempati rupang tuan rumah dan pendampingnya.

  Kesimpulan dan anjuran bagi konservasi.

Uraian di atas menjelaskan makna budaya dan pesan yang tersirat sangat luas dari satu bentuk khas denah bangunan tradisional Tionghoa, di Nusantara bentuk denah ini diantaranya dapat dijumpai pada beberapa bangunan klenteng tua.

Pada  proses preservasi bangunan  klenteng tua dengan denah si-he-yuan 四合院, mutlak harus dipertahankan bentuk denah asli tersebut.  Syarat ini hanya salah satu dari banyak hal lain yang juga harus diperhatikan benar-benar untuk tercapainya konservasi ideal dan optimum bagi bangunan klenteng tua yang berupa artefak budaya bersejarah.

Pengertian mengenai makna yang tersirat dan nilai budaya dari objek heritage harus diketahui lebih dahulu oleh para pengelola.  Barulah dilakukan tindakan perawatan yang hati-hati.

Ketidak tahuan bukan alasan pembenaran untuk melakukan perubahan sembarangan. Bila dalam keadaan tidak yakin, sebaiknya pemeliharaan hanya berbentuk perbaikan saja.  Tidak berupa perubahan yang berakibat fatal bagi bangunan heritage tsb, yang hanya akan menghasilkan kehancuran dari nilai sejarah bangunan heritage budaya tsb.

Referensi :

Ezerman. 1918. Beschrijving van den Koan-Iem-tempel “Tiao Kak Sie “ te Cheribon. Bataviaasch Genootschap van kunsten en wetenschappen.  Batavia.

Terjemahan  oleh Dr. Iwan Satibi. Majalengka. tidak diterbitkan. 2003.

Chang, Simon Shieh-Haw.  1986. The spatial organization and socio-cultural basis of traditional courtyard houses.                                                                                                              University of Edinburgh. U.K. Disertation.

Fu Xinian , et al, 2002. Chinese Architecture. Yale University Press. New Haven.

Institute of the history of Natural Sciences Chinese academy of sciences. Zhang Yuhuan. 1986.  History and Development of Ancient Chinese Architecture.

Science Press. Beijing.

Knapp, Ronald G. 1990. The Chinese house. Craft, symbol and the folk tradition. Oxford University Press. Hong Kong.

Knapp, Ronald G. 2000.China’s Old Dwellings. University of Hawai’i Press.Honolulu.

Knapp, Ronald G. 2003. Asia’s Old Dwellings. Tradition, resilience and change.

Oxford University Press, Hong Kong.

Knapp, Ronald G. 2006. Chinese house. The architectural heritage of a nation. Tuttle.

Kohl, David G. 1984. Chinese architecture in the straits settlements and western Malaya.Temples, kongsies and houses. Heinemann Educational Asia. Hongkong.

Liang Ssu-ch’eng. 2005.  Chinese Architecture. A pictorial history.  Dover Publications. New York.

Lip, Evelyn. 1983. Chinese temple architecture in Singapore. Singapore University Press. Singapore.

Lip, Evelyn. 1986. Chinese temples and deities. Times Books International. Singapore.

Liu, Laurence. 1989. Chinese architecture. Academy Editions. London.

Liu Tun-Chen. 1957. General account of the Chinese House. Taipei. Ming Wen.

Needham , Joseph, 1971. Science and civilization in China. vol 4, part 3. Cambridge University Press, Cambridge.

Ronan, Colin A. 2006. The Shorter Science and Civilisation in China. Volume 5.

Cambridge University Press. Cambridge. UK.

Ruitenbeek, Klaas. 1996. Carpentry & Building in Late imperial China. A study of the 15th century carpenter’s manual Lu Ban Jing. E.J. Brill. Leiden.

Salmond, Lombard. 1985, 2003. Klenteng-klenteng masyarakat Tionghoa di Jakarta. Cipta Loka Caraka.  Jakarta.

Salmon, Claudine & Lombard, Denys. 1977. The Chinese of Jakarta. Temples and communal life.    Association Archipel. Paris.

Shan Deqi. 2003. Chinese Vernacular Dwelling. China Intercontinental Press. Beijing.

Zhou Bao et al. 1991. China Traditional BuildingZhong guo chuan tong jian zhu. (in Mandarin).  Wan li shu dian, Zhong guo jian zhu gong ye chu ban shi.  Hong Kong.


[1] Mahasiswa program  pasca sarjana, jurusan Arsitektur  pada Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.

[2] Guru besar  jurusan Arsitektur pada Universitas Brawijaya, Malang.

[3] Dosen jurusan Arsitektur pada Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.

[4] Arsip dokumentasi foto dari  90an  klenteng yang pernah dikunjungi dapat dilihat pada blog berikut:

http://indonesiachinesetemple.wordpress.com/

http://klenteng-chinese-temples.blogspot.com/

 

Feng-shui Chinese culture’s space philosophy, worldview for built environment.

 

Authors : Sugiri Kustedja[1], Antariksa[2], and Purnama Salura[3].

 ABSTRACT

Some concepts as a form of folk-cult philosophy are still persistently believed by traditional Chinese ethnics in Indonesia, influencing their perception of the  built environment. This is an effort to synchronize universe with human beings during the construction of built environment. Aiming on harmonizing building with the nature and the universe, the macro-cosmos is projected into the micro-cosmos of building space. What are the backgrounds for such a worldview ? The methods used in this research are: hermeneutic,semiotic, and structuralism; Through the extensive literature research and combined witharchitectural analyses. This paper will describe in brief; from the cultural anthropological point of view, those specific ideas which are still influencing the community’s opinion. Based on ancient traditional cosmology concepts, transformed along with the Chinese civilization history; the ideas are adopted and believed  as a worldview in public daily lives. As a pragmatic society, those complicated concepts are condensed and crystallized into practical and compact patterns; simplified for application by those who believe them.

Keywords:  Chinese architecture philosophy, cosmology, culture, space, feng-shui.

Some traditional Chinese ethnics in Indonesia still persistently believed in feng-shui concept for reviewing any dwelling sites or buildings, even though not whole of the community adhere to it. Some are more or less skeptics. But this belief is also adopted now by other Indonesian ethnics, it has become an important subject to be considered in design by architects, developers and customers. Some stakeholders, advertisers, marketers, as well as customers are able to very fluently use some terms of feng-shui during their communications and decision makings.

As today’s current trend, most users only focus on talks about feng-shui for people’s living spaces, either houses, offices, buildings, or business locations. While in fact, previously in historical Chinese culture, initially feng-shui was a concept for positioning a correct and suitable tomb, a burial place for the dead.

The believers of traditional Chinese culture believe that when a person dies, the soul will continue on living as before like during his/her lifetime. Traditional cult says that after death, the body and 7 components of soul (=po魄) will go back to the earth (there are total 10 components of soul). While the other 3 components of soul (=hun 魂), one will go to heaven to be together with his/her ancestors, one will settle at the tomb, and the last one will stay at the place the person die; or at the name board (=sin-ci, shen-zhu-pai 神主牌) which was placed on the ancestor altar table at home.

Therefore his/her children will do best to get a perfect site for the tomb, to enable their parent’s soul feel comfortable and happy. When this is attained, in return the ancestor souls will bless and help their descendants’ lives.

Thus with this intention in mind, began the art to analyze a suitable tomb site which is called as yin-caykan-yu. The concept is to get a harmonized ancestor tomb site which match perfectly with the descendant’s living components. Later on this concept is extended for the living people, with the same intention; people try to create an art to analyze suitable places for living which can bring happiness and luck to the person who lives there; this concept is known as yang-cay. There are several different rules between the two, for instance with a dwelling the building should face south; while for the tomb it should face north.

This folk-cult also believes that this capacity of ancestor souls effectively helping their descendants (=qi气) is valid only when the corpse body is still intact and in good condition. This is one of the reasons in traditional culture; the coffin is made with very strong wooden material and is airtight. The tomb should be located on the higher part of the landscape, to get a deeper underground water level; preventing the water to penetrate the coffin.  In an emperor tomb we can find the corpse of the king completely covered by jade stone, believed to prevent decay.

Short History of feng-shui. 

Tracing back through early Chinese cultural history; people have already known kan-yu堪舆, di-li 地理, di-xue 地学, yin-zhai 阴宅 , yang-zhai 阳宅 etc., their meanings are similar with later days feng-shui. In the “Burial book Zang shu葬书” wrote by Guo-pu 郭璞(276-324 CE); appeared for the first time in writing the feng –shui 风水terminology. This specific book became the earliest manual for every feng-shui practitioners in later periods.

During the Tang dynasty (618-907 CE); Yang Yun-Song wrote about symbols of dragon and tiger, and the influence of flowing water to feng-shui. Yang worked as adviser to the emperor Ji Zong (874-888CE), and his writings were treated as basic theories for later palace feng-shui advisers. He introduced the symbolism of dragon and tiger representing the landscape topography. His concepts connecting mountains, water flows, and landscape is called as “Form-school” or “Jiang-xi school”; following the area name where Yang worked. His concepts suited the South and South-west China as these are mountainous area, though it is rather difficult to find ideal sites which always face south.

Figure 1. Simbolics zoomorphic translated from the site topographic.  (Skinner, S.2006:59)

During the Song dynasty (960-1279 CE) when Buddhism started getting strong influence in the Chinese society by the support of the palace, emerged a group of scholars called Neo-Confucians lead by Zhu-Xi (1130- 1200 CE). They are distinctively different from the early Confucians who focus on daily life ethics, education, ritual, filial piety, and logic. Neo-Confucians adopted the metaphysics, after life beliefs, divination, and promise of future life, subjects that are more attractive to the common people. Those terms match with the folk cult symbols as common beliefs and common memories.

Zhu-Xi promotes qi 气 breath, dao 道 way, which are the reason and source for every change in the universe. The concept related with existing ancient traditional cosmology theories, utilizing the same symbols and interpretation. Further in history this Neo-Confucians school was adopted as the kingdom philosophy, and its scholars became mandarins in the emperor organization. The ideas became major subjects during the state examination, as a prerequisite to enter the hierarchy. The characteristics of a common believe in feng-shui are very flexible, it can be interpreted freely by any parties without strict dogmas.

Combining with the invented compass, the Zhu-Xi concept consolidated and called “Orientation school” fang-wei 方位,or  “Fu-jian school”. These ideas are more suitable to be applied in the center and north China areas; where the land are topographically plain and flat, without any significant landmarks.

During centuries of practice, nowadays the difference between these two schools does not clearly show anymore. There were some periods in the history that the state tried to control, censor and monopolize the feng-shui concept, they established an institute teaching the formal and legal feng-shui concept. Unfortunately the feng-shui concept was already popular with the common people, it was impossible to eradicate it.

The intrinsic open system in feng-shui concept enables anybody to interpret the theories whenever someone feels confident to do it, resulting many feng-shui schools established during the history. As examples: Ba-gua feng-shui 八卦风水,  Fei-xing feng-shui 飞星风水(flying star), Black hat feng-shui. This last school started in Taiwan during 1970 – 1980s, with Buddhist Tantra background. It gained popularity in the West and USA, by teaching through the set up of feng-shui schools. Black hat claimed as modern feng-shui and matched with the contemporary western culture.

Traditional Chinese cosmology.

The basic traditional concepts are that human being is the center of universe, and that man’s destiny is influenced by totality of nature’s powers. These emphasized the cosmology ideas as theoretical bases for feng-shui. Traditional Chinese cosmology is a very speculative philosophy, it is believed to be true and correct by people. Groupings of those basic concepts will be as follow:

  • Cosmogony (origin of universe):

mythology of Pan-ku and Nu-wa

tai-ji 太极the Great absolute concept

gai-tian 蓋天 sky shell

                        hun-tian 渾天 hen egg model

                        xuan-ye 宣夜 dark empty space

  • Numeric, visual, classification (visualization of universe concept) :

luo-shu 洛書    manuscript of Lo river (9 nonary)

                        he-tu 河图     diagram from Yellow river (10 numerals)

                        wu-xing 五行 (5 quinary )

  • Harmony, dynamics (source of ever changing universe):

yin – yang陰陽,阴阳, tai – ji – tu 太极图 (2 binary )

                       wu-xing 五行 ( 5 quinary)

                               ba – gua 八卦 (8 trigrams )

  • Time dimensions related to astronomy (synchronization of the 3 dimensions world with  the universe cycle, to get a harmonized time dimension) :

gan-ying感應 (cosmic resonances)

calender: lunar & solar,  lunisolar

10   sky stems tian-gan 天干

12 earth branches di-zhi 地支

universe cycle of 60 years  liushi jiazi六十甲子

                               4 Si-xiang 四象 4 mythology sky animals

28 Ershi-ba-xiu 二十八宿  lunar mansion

  • Correlation, relativity, application to daily life.

Geometrical cosmology, geometrical cosmography

                        Ming-tang明堂 (lights hall)

                        Correlative thinking

                        Correlative cosmology

                        Correlative geometry

feng-shui, ba-zi, tcm, culinary, ritual, cult, ethics

A detailed explanation of each theory unfortunately will need many pages, thus beyond the scope and limitation of this short paper.

Cosmology is a human effort to explain his/her position in the universe, a figure of the nature as perfectly regulated and very systematic. Correlation and relativity are major characteristics for application to the daily life of the above complicated cosmography. Cosmology always appears within every aspect of traditional life. For buildings it appears as feng-shui concept, in medicine it emerges as acupuncture, herbal medical, traditional Chinese medicine (TCM), in divination it is known as ba-zhi (horoscope). Every concept has its fundamental theory which always refers to the traditional cosmology. They are extremely very flexible, borderless, boundless, and have indefinite relativity.

For building construction these cosmology concept needs tools as interfaces for any thought of ideas to be transformed into tangible dimensions. Further they need also to transfer the concept into numeral figures of length, width and height. This end result is applicable to building dimensions, constructions of built environment or dwelling places.

Luo-pan.

To be practical in traditional Chinese culture, the complicated result of total analyzes of universe characteristic ideas were then transformed into a portable tool, instrument; called luo-pan 罗盘. The instrument consisted of two pieces of flat planks. The top plank is a circle, drawn with concentric circles, it can be moved rotating around a center axis fixed on a square plank as the bottom. Current luo-pan will show a compass needle at the center, circled by many concentric cycles around it. Each cycle specifically represented single philosophical concept. There are several versions of luo-pan with different numbers of cycles. Each version belongs to a different feng-shui school.

This tool shows a complete system symbolizing the relationship between  human being, earth/world, universe, astrology, cosmology and philosophy. Creating a perfect picture of totality, a complete universe. With this tool, the qi 气situation of the building site could be discovered. To interpret the result of a luo-pan analysis; we need help from a feng-shui xian-sheng 风水先生, who is capable to explain with his feng-shui vocabulary and local cultural symbols to the customer. The position of a luo-pan while analyzing; is taken as the axis-mundi of that specific building site. Luo-pan can also be used to give advice about the perfect time to install critical components of a building; such as installing the ridge purlin, starting the foundation works etc.

Luo-pan is known since the Warring states period (475-221 BCE) in the early simpler version. Throughout the history, luo-pan slowly became more complicated. During the Tang dynasty (618 – 907 CE) and Song dynasty (960 – 1279 CE) a compass needle was inserted at the center.  Later with Ming dynasty (1368 – 1644 CE) and Qing dynasty (1644 – 1911 CE) luo-pan arrangement is more complicated and more details were added due to combination with divination theories. Some versions of luo-pan will have more than 30 concentric circles with variety of philosophies.

 Figure 2. A feng-shui xien-shen in practice, with a luo-pan on the portable rack. A classical picture copied from Sun Jia-nai. Shu-jing. Shujing tu shuo.1905. (Knapp, R.G. 1992:37)

 

Figure 3. Luo-pan sample. It has 29 concentric cosmology circles. (Lu A. H. M. 1997:168)

 

 

 

  1. Heaven Pool
  2. Former Eight Trigrams (Treatment; Generation and Formation)
  3. Loshu (Numerolgy of Jiugong, Nine Palaces; The Origin of Transformation)
  4. The Evil-spirit of Brightness (Yao Sha)
  5. The Evil-spirit of the Netherworld (The directions of the Eight Roads and Four Roads)
  6. The Evil-spirit of misfortune (Jie Sha)
  7. The Replacing Star (the starting star in the occult school, xuan kong xue)
  8. Twenty Four Directions of Correct Needle and Pure Yin and Pure Yang (the Earth Plate for orienting the Site)
  9. Nine Stars (transformed from the Earthly Mother Eight Trigrams)
  10. Twenty-four Heaven Stars (with the Nine Stars for distinguishing the Dragons, orienting the Site, judging the local eminences, Sha)
  11. The seventy two Mountain-penetrating Tigers
  12. One hundred and twenty divisions, fenjin
  13. Earth-penetrating sixty dragons (with three and Seven and the method of Deviation and Absence)
  14. Numbers of Loshu (the numbers of sixty-four Former trigrams)
  15. Sixty-four Hexagrams
  16. Twenty-four directions of the Middle Plate (the Man Plate) (For distinguishing the Dragons and surrounding mountains)
  17. Twenty-four seasonal qi
  18. Numbers of Loshu (Numbers of Later sixty-four Trigrams)
  19. Sexagenary Jiazi
  20. Sixty-four Trigrams (Images)
  21. Sixty-four Trigrams (Names)
  22. The Fortunatness of Trigrams
  23. Three hundreds eighty-four Lines
  24. Seam Needle (the Heaven Plate) (for orienting the Site, the watercourse, the door, and the road)
  25. Sixty Hexagrams to Link Mountains (set the water mouth)
  26. The Five Phases (examining the local eminences and watercourse)
  27. The Twenty-eight Asterisms
  28. Degrees of Latitude
  29. Degrees of Longitude

Table 1. List of 29 circles of a luo-pan as shown in previous picture. (Lu A. H. M. 1997:167)

 

 

Feng-shui square and ruler.

To transfer the result of analyzing into construction figures, the builders will use a special ruler and square. Called as Lu-Ban ruler, Lu-Ban square; they were named after Lu-Ban, a known expert in the carpenter works. The ruler will have red and black areas with each specific category name, matching to the feng-shui terms. There are several versions of ruler; each from a different feng-shui school. It is very critical to measure dimensions of any opening on the wall, door frames, windows, and the distance of windows from floor surface. The dimensions must always fall inside the good area. The ruler is also used for measurement during the furniture making.

Figure 4. Lu-ban carpenter square ( Ruitenbeek, K. 1996:77)

Figure 5. Lu-ban ruler (top), part of Lu-ban square (bottom). ( Ruitenbeek, K. 1996:77).

Figure 6. Lu-ban ruler. ( Ruitenbeek, K. 1996:77)

Figure 7.  Lu-ban ruler. It shows :  wealth cai 财, sickness bing  病, separate li 離,  wisdom yi 义, position guan 官,  rob jie 劫, danger  hai 害,  root ben . (Lu, A. H.Min. 1997:101

 

Figure 8.  Different feng-shui rulers from several schools. Favorable areas are hatched with stripes. ( Ruitenbeek, K. 1996:91)

Discussion.

The freedom to interpret the feng-shui concept without restriction for any parties; proofed to be the strength and spirit which enabled the persistency of its existence up to nowadays, in fact it is getting popular again currently.

Luo-pan, Lu-Ban’s ruler and Lu-Ban’s carpenter square; are the portable tools specifically designed to serve the complicated traditional Chinese cosmology concept to be transformed through the feng-shui theories. They work as an interface for application in the construction and building activity, transforming concepts into livable space dimensions.

Feng-shui has the capability to translate the landscape topography into traditional cultural zoomorphic and anthropomorphic symbols which are already understood by common people, integrated with their folk-cult or folk-believe. Feng-shui xian-sheng 风水先生 background can be very flexible, the xian-sheng can be either from very basic or very sophisticated educated and cultural background. They can explain in detail the outcomes of feng-shui interpretations within their vocabulary and symbols.

Feng-shui can be an expression of self personification in a building owned. The traditional Chinese architecture elements already have fixed common form and symbols, enforcing almost similar appearance in any Chinese vernacular building. The suitable site or building according to feng-shui then can be an ego-centered universe.

The traditional Chinese cosmology of macro cosmos, through the feng-shui concept is transformable into a micro cosmos of site or dwelling building. It is thus transformed from indefinite concept into a definite tangible dimension. Feng-shui is a systematic metaphor which became a myth for those who believe in it. (Feuchtwang, S.D.R. 1974: 236-264).

References.

Bruun, Ole. 2008.  An introduction to Feng-shui. Cambridge: Cambridge University Press.

Cheng Jian-jun 程建军. 2005. Zhong-guo feng-shui luo-pan中国风水罗盘 (Chinese compass feng-shui). Nanchang 南昌: Jiangxi Kexue Jishu Chubanshe江西科学技术出版社.

Fan Wei. 1992. Village feng-shui principles. In Ronald G. Knapp. Chinese Landscape. Honolulu, Hawaii: University of Hawaii Press.

Feuchtwang, Stephan D.R. 1974. An Anthropological analysis of Chinese geomancy. Vientiane, Laos: Vithagana.

Knapp, Ronald G. (editor). 1992. Chinese landscape. The village as place. Honolulu, Hawaii: University of Hawaii Press.

Moran, Elizabeth, Ypseph Yu, Val Biktashev. 2002. The complete idiot’s guide to Feng Shui 2/e. Indianapolis: Alpha.

Ruitenbeek, Klaas. 1996. Carpentry & Building in Late Imperial China.Leiden: E.J. Brill.

Skinner, Stephen. 2006. Feng Shui. The Living earth manual. Hong Kong: Periplus, Tuttle Publishing.

Encyclopedia.

Eliade, Mircea. 1987. The Encyclopedia of Religion. New York: MacMillan Publishing Company.

Disertation.

Lu, April Huei-Min.  1997. The Compass and the Ruler. USA: University of  Pennsylvania

 


[1] Post graduate student, doctorate candidate. Engineering -faculty, architectural dept. Post graduate program, Parahyangan Catholic University. Bandung. Email : ibcindon@rad.net.id

[2] Lecturer Dept of Architecture, Engineering Faculty, Brawijaya University. Malang.

[3] Lecturer Dept of Architecture, Engineering Faculty, Parahyangan Catholic University, Bandung.

Ini sedikit Tjeritranja Kongtja Banjoewangi, Tan Hu Cin Jin, HO TONG BIO

Bahoewa dahoeloe kalanja Kongtja Banjoewangi itoe, atsalnja manoesja djoega, bersaudara 3 orang. Maka Kongtja jang paling toewa sendiri, bernama Tan Tjin-djin, mendjadi djoeragan dari praoe sloep bersama2 katiga saudaranja blajar dari Batawi ka Bali. Satlah praoenja sampei di straat Bali, di laoet antara Blambangan dan Bali, praoenja tenggelam. Kongtja terdampar di pantei Blangbangan, saudaranja jang ka doewa ilang di tengah laoet, laloe djadi dewa doedoek di pantai Batoedodol, tanah Banjoewangi di seboet Dji-kongtja, datuq jang kadoewa. Adapoen saudaranja jang katiga, terdampar di panteinja tanah Bali di sitoe laloe djadi harimau, setab demikijan makanja matjan itoe oleh orang Tjina disini, di seboet Sa-kongtja, artinja datuq jang katiga.

 

Adapoen Kongtja Tan Tjin-djin itoe, laloe masoek ka negri Blangbangan. Koetika itoelah moelai baharoe ada orang Tjina di negri Blangbangan, serta di poengoetnja sama Radja di sitoe, di soeroenja mendjadi toekang memboewat astana di Matjanpoetih. Satlah habis pekerdjaannja di Matjanpoetih itoe dengan sampoerna, laloe terdengar oleh Radja di Mengwi, bahoewa Radja di Blangbangan ada mempoenjai saorang toekang jang pintar sekali. Laloe di printahnja, akan di soeroeh memboewatkan astana, sebab Radja berhadjat hendak membangoenkan astana baharoe di Mengwi. Serta pada waktoe itoe negri Blangbangan, ada di bawah prentahnja Radja Mengwi, mendjadi oleh Radja Blangbangan, Kongtja itoe di soeroehnja pergi ke Mengwi. Tetapi ija tijada maoe pergi, sebab tlah di katahoewinja, jang ija akan kena pitenah di sitoe, tetapi senantijasa di boedjoknja djoega oleh Radja Blangbangan, serta dija berdjandji dengan soempah, djikalau ija kena pitenah atawa dapat tjilaka di sitoe, bijar kradjaaanja di Blangbangan sampei toeroen temoeroen kapada anak tjoetjoeknja djangan mendapat slamat. Setlah demikijan perdjandjiannja Radja Blangbangan itoe, baharoelah Kongtja maoe pergi ke Mengwi.

Setlah sampei di Mengwi, laloe ija memoelai memboewat astana baharoe di sitoe. Maka baharoe boleh separo pekerdjaanja, maka bermoefakatlah sekalijan Poenggawa di sitoe, menghadap kapada Radjanja sombahnja: “Ja toewankoe! Apalah goenanja toekang Tjina ini, maha pekerdjaannja moedah sahadja, serta oepahnja banjak, hamba toewankoe orang bali sahaja bisalah mengerdjakan jang demikian itoe. Tasoesah2 toewankoe mengaloewarkeun oewang ssbanjak2nja.” Maka Radja bersabda, oedjamja: “Pada sekarang ini apalah dajakoe, kema akoe tlah berdjandji membri oepah kapadanja, lagi poen djaoeh2 kita panggil datang kemari.” Maka sombahnja sekalian Poenggawa itoe: “Ja toewankoe! Apalah jang toewankoe soesahken, kerna ija saorang2 diri djoewa moedah djoegalah toewankoe akan memboenoeh kapadanja. Maka di sahoetinja oleh Radja oedjarnja: “Baiklah kalaoe demikijan kehendakmoe sekalija, baik kami soeroeh boenoeh sadja dijanja, djiangan kami soesah2 mengeloerwarken oewang banjak.”

Satlah bermoepakat kahendaknja Radja kapada sekalijan Poenggawanja, laloe Radja bersoeroehan kapada doewa orang brahmana, akan disoeroehnja memboenoeh kapada Kongtja. Bahoewa oleh kadoewa brahmana itoe Kongtja di boedjoeknja, di adjaknja pergi bermain2 kapinggir pantei, serta tijada sekali2 di jakinken kahendaknja itoe. Maka oleh Kongtja di ikoetnja kadoewa brahmana itoe pergi kepantei, serta tlah di katahoewinja ap maksoednja, sebab ija tijada brasa berdosa. Maka tijada sekali2 takoet atawa chawatir. Setlah sampei kapinggir pantei, maka kadoewa brahmana itoe, berpikir tijada bolehlah rasanja aken memboenoeh kapada Kongtja itoe, mendjadi kadoewanja berdiri serta tertjengang2 sahadja. Setlah terlihat oleh Kongtja, bahoewa kadoewa orang itoe bersoesah2 hati roepanja, maka di katahoewilah kahendaknja serta ija bersabda kapadanja, oerdjarnja “Hei! Kamoe kadoewanja! Kerdjakenlah sebagei titah Radjamoe itoe sebab tlah koekatahoewi, jang kamoe kadoewanja di soeroeh oleh Radjamoe memboenoeh akandakoe. Kerna akoe tijada berdosa, maka inilah akan mendjadi alamat, jang tijada akan lama, nistjaja binasalah kradjaan Mengwi dan Blambangan itoe. Setlah terdengar oleh kadoewa brahmana itoe, maka kadoewanja terkedjoet, serta gemetar sekalijan anggotanja dengan gemletak segala sendi toelangnja, laloe kadoewanja djatoeh bersoedjoet di kakinja Kongtja, serta rombahnja “Ja toewankoe hamba minta ampoen sriboe ampoen di bawah leboe tlapakan toewankoe, dengan sebenar2 njalah hamba di titahkan oleh Radja hamba, akan memboenoeh toewan hamba, sebab dari pada kasoetjian toewan hamba, maka tijada bolehlah hamba kadoewa orang mengerdjaken akan dija, boleh ampoenilah sekalijan dosa hambamoe.” Maka Kongtja poen bersatda poelah kapadanja oedjarnja: “Djikalaoe demikian, baik kembalilah kamoe kadoewanja kapada Radjamoe, katakana jang kami tlah mati kaoe boenoeh.”

Adapoen kadoewa, bahmana itoe berpikirlah di dalam hatinja, djikalau akoe kembali, nistjaja kita orang herdoewa mati djoega di boenoeh oleh Radja, baiklah kita orang mengikoeti orang ini mendjadi hambanja. Laloe ija kadoewanja soedjoed kapada Kongtja, sumpahnja “Ja toewankoe, hamba kadoewa ini tijada hendak kembali lagi, mati hidoep hamba mengikoet toewan hamba. Maka Kongtja menjahoet, oedjamja: “Baiklah kaloe demikijan kahendakmoe. Marilah! Kita pergi ka Blangbangan.”

Laloe Kongtja berdjalan di atas ajar, kadoewa brahmana itoe di tjempaki kadoewa kasoetnja, laloe di soeroehnja menaiki, laloe di naikinja satoe saorang, toeroet berdjalan bersama2 di atas ajar, menoedjoe ka goenoeng Blangbangan. Setlah sampei ke batas negri Blangbangan di mana ada satoe boekit bernama goenoeng Semboeloengan, laloe meehrad (moktah) katiga2nja. Kamoedjian dari pada itoe, ada antara 40 a 50 tahoen lamanja, maka di Blangbangan tlah banjaklah orang Tjina doedoek disitoe. Soedah ada kira2 80 ataoe 100 orang banjaknja di djadikan 4 kampoeng Tjina, 1 Banjualit, 2 Kadaleman, 3 Lateng, dan 4 Kesatrijan. Ada poen di Banjoealit itoe, tempatnja di pinggir pantei, di sitoe djadi Pabeannja negri Blangbangan, serta ada sahbandamja jang berniaga serta memoengoet beja di sitoe dan di pelaboehannja banjaklah praoe jang pergi datang, dan Batawi pergi bernijaga ka Bali membli boedak.

Maka pada satoe kali, adalah saboewan praoe seloep jang besar sekali, dari Badoeng hendak belajar poelang ka Batawi, serta memoewat orang boedak laki prampoewan, ketjil dan besar, hina dina, ada kira2 60 a 70 orang banjaknja. Serta samoewanja terbelenggoe dengan rantei besi, dari leher sampei kakakinja, takoet djangan dija orang mengamoek atawa lari. Satlah prase itoe sampei di tentangannja goenoeng Semboeloengan itoe, maka praoenja tijada bisa melepasken tempat itoe, prasaannja ija tlah meninggalkan tempat itoe satoe hari satoe malam, serta mendapat angin baik, dengan ladjoe sekali rasanja. Tiba2 pada pagi hari praoenja taoe2 kembali poela kasitoe. Bebrapa2 kali ija berlajar, maka demikijan djoega, sampei ampir satoe boelan lamanja, masih djoega doedoek di sitoe, sampei bekalnja ampir habis. Maka ketakoetan serta dengan kasoekaran jang anat sangat sekalian orang jang ada didalam praoe itoe, di sangka dirinja mistjaja mati semoewanja di dalam laoet.

Adapoen di antara boedak banjak itoe maka adalah saorang bangsa satrija, jang toeroet terdjoewal di sitoe, serta terblenggoe dengan rantei besi kaki tangan serta lehernja,  sekonjong2nja ija terlepas dari blenggoenja, sebageimana seperti tlah di loetjoet oleh orang, serta kantjingnja masih tinggal terkantjing djoega baik2, laloe menari serta berkata2 dengan bahasa Tjina panggil2 sama djoeragan praoe sloep itoe pendjarnja: “Hei! Djoeragan! Katahoeilah olehmoe, akoelah Kongtja jang bernama Tan Tjindjin, tempatkoe di kemoentjak goenoeng Semboeloengan, bawalah akoe ka negri Blangbangan, soepaja akoe tinggal slama2nja disitoe.” Laloe ija tredjoen kadalam laoet, serta berdjalan baik2 di atas ajar, maka di ikoetlah oleh djoeragan itoe dengan bersampan. Satlah sampei di kemoentjaknja goenoeng Semboeloengan itoe, laloe orang itoe ingat akan dirinja, tiba2 kedapatan 3 batoe artjtja itoe, 1 besar, 2 ketjil, laloe di hambilnja3 artjtja itoe di bawanja toeroen kapraoenja, langsongnja berlajar menoedjoe ka pelaboehan Banjoealit.

Satlah sampei, laloe djoeragan itoe toeroen ka darat, mengoempoelkan sekalian orang Tjina di sitoe, sasoedahnja berkoempoel samoewanja, maka orang Bali satrija itoe kasoeroepan2 poela, dengan berkata2 bahasa Tjina, mentjeritaken hal achwalnja pada dahoeloe kala di Matjanpoetih dan di Mengwi, serta kena pitenah maoe di boenoeh di sitoe, ada poen kadoewa brahmana jang di soeroenja memboenoeh itoe, tlah mendjadi hambanja slama2nja. Maka ditjeritakannja kamoe sekalian orang Tjina di Blangbangan, kataoewilah (bahoewa) ada 3 bersaoedara, jang tengah doedoek (di) Batoedodol, jang bongsoe mendjadi harimau, doedoek di oetan Blangbangan dan Bali, sebageimana tjeritanja jang terseboei di atas itoe, serta iaj bersabda oedjamja: “Slama2nja akoe tijada hendak bergerak dari sini, soepaja koe katahoewi apa kadjadijannja negere Blangbangan dan Mengwi itoe, serta akoe berkehendak moewasken rasa hatikoe, memakan hatsilnja negri Blangbangan dan Bali.”

Satlah demikian, maka ditrimalah dengan segala soeka haji oleh sekalijan orang Tjina di Blangbangan serta di permoelijakan dengan palabagei kramejan dan persembahan jang indah2, laloe bermoefakatlah sekalijan orang Tjina di sitoe boewat mengardjakan roehmanja Kongtja di desa Lateng, sebab di sitoe sahadja tempatnja jang baik, lagi poen loewas adanja.

Satlah negri Blangbangan di olahken oleh Kompeni Olanda pada tahoen 1765 laloe berpindah dari Blangbangan kanegri Banjoewangi jang sekarang ini, serta orang Tjinanja sekali berpindah samoewanja dari sitoe, dengan Kongtja sekali di pindahkan, di doedoekan di kampoen Tjina ja itoe pada tempatnja jang sekarang ini djadi Kongtja itoe, di Banjoewangilah tempatnja jang benar, maka di tanah Bah ini, tjoema pesanggrahannja (persimpangan) sahadja, seperti di Tabanan, Mengwi, Bangli, Gyanjar, kloeng Koeng, Karang Asem dan Sasak, sabab tijada poenja tempatnja Kongtja sendiri, tjadinja orang Tjina masing2 mendoedoekan Kongtja di roemahnja sendiri2, sebab pengharapannja orang Tjina di tanah Bali sini orang poenja rezeki malainkan pemoedjaanja Kongtja djoewa, kerna dari pada itoe, makanja pada saban2 taboen, datanglah pendjaga Kongtja Banjoewangi berkoeliling tanah Bali, boewat meminta sedekah, akan di kerdja sembajang reboetan di Banjoewangi. Adapoen jang ada tempatnja Kongtja sendiri, di tanah Bali sini, tjoema di Boeleleng dan di Badoeng sahadja, kalau di Djawa tjoema di Basoeki dan di Prabalingga adanja.

Bahoewa ini tjeritra, tlah saja bawa tjeritranja saja poenja orang toewa (di Banjoe)wangi, sebab saja poenja datuq sama loe tlah mendjadi pendjaga roemah Kongtja di Banjoewangi.

Boeleleng 2 Juny 1880. Terkarang oleh saja.

 

KETERANGAN.

Tulisan sejarah Kongco Banyuwangi ini disalin dari tulisan ibu Myra Sidharta.

Beliau mendapatkan dari copy dokumen yang ada di museum negeri Belanda.

Copy didapatkan dari Prof Teuku Iskandar , yang menemukan dokumen dalam bahasa Melayu di KITLV di Leiden.

Salinan sebanyak 8 halaman .  (  OR  3214 Mal 709c ).

Artikel lengkap dapat dilihat pada  Journal  ASIAN CULTURE, #24, jUNE 2000.

Sayang, agaknya journal ini sudah berhenti terbit sekarang. (dari Taiwan)

2011 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

A New York City subway train holds 1,200 people. This blog was viewed about 3,800 times in 2011. If it were a NYC subway train, it would take about 3 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 153 other followers